Munawir Sadzali - Razak, S.IP., M.A Kepala LLDikti Wilayah XVI

Kepala LLDikti Wilayah XVI – Banyak Tantangan Dihadapi PTS Di Sulut, Sulteng, dan Gorontalo

Share

Telah meniti karir sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) sejak tahun 2006 di Kementerian Riset dan Teknologi sebagai analis kerja sama internasional. Perjalanan karirnya berkembang dengan berpindah ke bagian Humas sebagai kepala subbagian pers dan media hingga tahun 2014, saat kementerian bergabung dengan Dirjen Dikti menjadi Kemenristek Dikti. Pada 2016, ia dipercaya mengelola komunikasi publik, termasuk membangun relasi dengan media massa.

Pada tahun 2018, Munawir kembali ke kampung halamannya di Makassar dan bergabung dengan LLDikti wilayah IX sebagai Kepala Bagian Kelembagaan dan Bagian Umum.

Wilayah ini kemudian dimekarkan menjadi dua, dan pada tahun 2022 ia menjabat sebagai Kepala LLDikti wilayah XVI yang meliputi tiga provinsi: Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo.

Di wilayah LLDikti XVI terdapat 84 perguruan tinggi swasta (PTS), yang tersebar dengan rincian 12 di Gorontalo, 31 di Sulawesi Tengah, dan 41 di Sulawesi Utara. Dari jumlah tersebut, sekitar 29 perguruan tinggi berbentuk universitas.

Mengenai kategori PTS besar, pihak LLDikti belum memiliki parameter yang pasti. Namun, jika dibandingkan dengan PTS di Jawa yang sangat besar seperti Binus dan Gunadarma, wilayah ini belum memiliki yang sebanding.

Sekitar 5 hingga 10 persen PTS di wilayah ini dapat dikategorikan besar dalam konteks wilayah tersebut, dilihat dari jumlah mahasiswa yang signifikan meskipun skalanya masih relatif kecil dibandingkan dengan PTS besar di Pulau Jawa.

Sulit Dijangkau
LLDikti Wilayah XVI menghadapi tantangan geografis yang kompleks dalam mengelola 84 perguruan tinggi swasta yang tersebar luas. Dengan kantor pusat di Gorontalo, distribusi perguruan tinggi sebagian besar berada di Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah, sementara Gorontalo memiliki jumlah yang relatif sedikit.

Jarak dan aksesibilitas menjadi hambatan utama, karena perjalanan antar perguruan tinggi dapat memakan waktu 18 hingga 24 jam menggunakan kombinasi transportasi darat, laut, dan udara, termasuk rute yang sulit dijangkau seperti pulau-pulau perbatasan tanpa penerbangan langsung.

Selain tantangan geografis, masalah mutu pendidikan juga menjadi pekerjaan rumah. Kualitas perguruan tinggi swasta di wilayah ini masih jauh dari standar Pulau Jawa, sehingga LLDikti perlu melakukan upaya besar untuk meningkatkan kesadaran dan kualitas institusi melalui sistem penjaminan mutu internal (SPMI).

Dengan anggaran yang terbatas dibandingkan wilayah Jawa, LLDikti Wilayah XVI mengandalkan efisiensi dan teknologi digital. Semua layanan administrasi dan komunikasi sudah berbasis online agar dosen dan mahasiswa bisa mengaksesnya tanpa hambatan jarak.

Helpdesk informatif dan penggunaan media daring juga diperkuat untuk menghemat biaya dan meningkatkan efektivitas, sementara kegiatan tatap muka dipilih secara selektif dan lebih sering dilakukan di kampus daripada hotel untuk menghemat anggaran.

LLDikti Wilayah XVI yang membawahi 84 perguruan tinggi swasta menghadapi tantangan besar berupa penurunan minat mahasiswa baru dalam beberapa tahun terakhir.

Sebagian besar PTS mengalami penurunan jumlah mahasiswa setiap tahun, yang disebabkan oleh faktor ekonomi dan rendahnya angka partisipasi kasar (APK) di bawah 35 persen.

Selain itu, persaingan ketat dengan perguruan tinggi negeri (PTN) yang lebih diminati dan sering membuka penerimaan mandiri menambah kesulitan PTS dalam menarik mahasiswa.

Munawir juga menyebut adanya masalah integritas di beberapa PTS. Sejak 2022, dua kampus diajukan untuk pencabutan izin karena pelanggaran berat, termasuk jual beli ijazah. “Yang inovatif dan semangat ada, tapi yang suka melanggar juga ada,” ujarnya.

Mengenai langkah LLDikti dalam menghadapi situasi ini, Munawir menjelaskan mereka pertama-tama melakukan pemetaan dan diagnosis situasi PTS berdasarkan sumber daya manusia, akreditasi, dan kurikulum. Strategi yang diterapkan tidak sama untuk semua kampus.

“Yang inovatif kita fasilitasi dengan program dan informasi, tapi yang masih di zona nyaman butuh effort lebih besar karena mereka belum siap untuk berubah,” katanya.

Minim Akreditasi Unggul
Dari 84 PTS yang ada, belum ada yang meraih akreditasi unggul. Sebagian besar masih berstatus akreditasi baik, dengan hanya delapan yang memperoleh akreditasi B, dan hanya dua dari 517 program studi yang dinilai unggul, yaitu PGSD di Universitas Muhammadiyah Gorontalo dan Manajemen di Universitas Klabat.

Masalah utama yang dihadapi bersifat sistematis dan mendalam, termasuk hambatan geografis yang membuat dosen sulit melanjutkan studi S3, yang merupakan salah satu syarat peningkatan kualitas perguruan tinggi.

Contohnya, dosen dari Sulawesi harus ke Jawa atau Makassar untuk program doktoral, dengan kendala biaya dan fasilitas beasiswa yang terbatas. Kondisi ini juga berdampak pada universitas negeri di wilayah tersebut, di mana dari empat universitas, baru tiga yang unggul.

Bisnis pendidikan tinggi di wilayah ini masih menunjukkan tren positif. Meski ada dorongan untuk menggabungkan beberapa PTS dalam satu yayasan agar lebih efisien, pendirian PTS baru tetap berlangsung,

seperti Politeknik Banggai Industri di Luwuk, Politeknik Kebangsaan di Gorontalo, dan Akademi Bisnis dan Keuangan Primaniarta di Manado. Bahkan, sedang diproses pendirian politeknik di Poso.

Selain itu, ada perpindahan lokasi PTS seperti Akademi Kebidanan Mega Buana dari Aceh ke Palu dan Institut Teknologi dan Bisnis Iksan Balemo dari Makassar.

Munawir menyebutkan perkembangan program studi baru di bidang vokasi yang didominasi prodi STEM dan kesehatan, seperti informatika medis, K3, manajemen informatika kesehatan, dan keperawatan anestesi, yang kini banyak diajukan.

Namun, untuk jurusan sosial, terutama jenjang sarjana, pertumbuhannya hampir tidak ada akibat moratorium. Ada tambahan di program vokasi atau S2 dan S3.

Meski masih banyak tantangan, terdapat potensi bagi PTS yang bersifat transformatif seperti Muhammadiyah Palu, Muhammadiyah Gorontalo, Universitas Klabat, dan Universitas Katolik De La Salle yang memiliki peluang dan sedang dibina agar dapat meraih status unggul saat regulasi terkait peringkat institusi diperbarui.

Berbagai Peluang
Dalam menghadapi ekspansi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) dan pertumbuhan Universitas Terbuka, salah satu keluhan utama PTS adalah berkurangnya calon mahasiswa potensial yang direkrut oleh PTN dalam beberapa gelombang.

Untuk mengatasi ini, Munawir menekankan perlunya PTS fokus pada pengembangan program studi berbasis potensi daerah yang belum diakomodasi oleh PTN, seperti kelautan, pariwisata bahari, dan energi terbarukan, agar mahasiswa memiliki alasan kuat untuk memilih PTS.

Munawir juga mendorong PTS membuka peluang bagi mahasiswa asing, dengan beberapa PTS di wilayahnya mulai mencari mahasiswa dari luar negeri, seperti Timor Leste, bahkan membuka program S2.

Strategi rekognisi pembelajaran lampau (RPL) juga menjadi alternatif yang tengah didorong, meskipun harus dikelola dengan integritas agar tidak disalahgunakan sebagai jalan pintas mendapatkan ijazah.

Fleksibilitas pembelajaran, terutama sistem hybrid dan daring yang masih diatur ketat, dianggap sebagai solusi penting untuk menarik mahasiswa yang bekerja atau membutuhkan metode pembelajaran lebih fleksibel.

Terkait program pemerintah seperti Kampus Merdeka yang baru diluncurkan Mei lalu, LLDikti XVI sejak awal telah memetakan kekuatan dan potensi perguruan tinggi untuk menyesuaikan dengan kebutuhan daerah.

Munawir mengakui banyak kampus masih kesulitan menunjukkan keunggulan dan potensi dampak nyata, serta berjuang meningkatkan mutu dan relevansi lulusan, yang menjadi pekerjaan rumah ke depan.

LLDikti juga proaktif melakukan intervensi, terutama pada perguruan tinggi yang masih berada di zona nyaman dan medioker. Mereka aktif mendorong dosen untuk mengajukan kenaikan pangkat dengan pendekatan lebih agresif.

Bahkan, situasi disebut ekstrem hingga LLDikti harus “ngejar-ngejar” dosen, karena bila menunggu inisiatif dosen, perkembangan tidak akan berjalan.

Karakteristik Wilayah
Selain itu, setiap wilayah memiliki karakteristik yang berbeda dalam perkembangan pendidikan tinggi. Di Gorontalo, meskipun jumlah penduduk relatif kecil, pertumbuhan pendidikan tinggi cukup baik dan progresif.

Munawir menilai perguruan tinggi di Gorontalo lebih unggul dibandingkan wilayah lain, dengan kolaborasi dan kompetisi sehat antar perguruan tinggi. Sektor yang dikembangkan adalah agribisnis dan perikanan, menyesuaikan potensi lokal.

Sementara itu, di Sulawesi Utara, khususnya Kota Manado, pertumbuhan sangat menjanjikan. Manado berfungsi sebagai pusat pertumbuhan dan gerbang strategis menuju Asia Pasifik,

membuka peluang pengembangan kelas internasional dan menarik mahasiswa dari kawasan Pasifik dan Asia Timur. Fokusnya adalah kelautan dan pariwisata bahari sebagai kekuatan daerah.

Berbeda dengan Sulawesi Tengah, yang dikenal sebagai wilayah pertambangan dan menghadapi tantangan bencana alam seperti tsunami dan gempa pada 2018.

Munawir menekankan pentingnya perguruan tinggi di sana menyediakan program studi relevan untuk kebutuhan industri lokal, seperti energi dan tambang, serta kesiapan dalam bidang kebencanaan. Meskipun terdampak bencana, potensi pendidikan tinggi di wilayah ini tetap baik.

Dengan intervensi pemerintah yang intensif dan meningkatnya kesadaran dosen dalam penelitian serta pengabdian masyarakat, perkembangan perguruan tinggi di ketiga provinsi ini akan terus membaik. “Dosen sudah memiliki kesadaran untuk melakukan pengembangan,” pungkasnya.

Tonton Video Selengkapnya

Artikel Terkait