Pada tahun 2017, ia mengikuti lelang terbuka untuk posisi sekretaris Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti), yang saat itu masih bernama Kopertis.
Setelah lolos seleksi, ia pun beralih dari dosen fungsional menjadi pejabat struktural. Ia mulai menjabat sebagai sekretaris Kopertis sejak 2017 dan pada 26 Januari 2022 dipercaya menjadi Kepala LLDikti XII. Sebagai Kepala LLDikti Wilayah XII, Jantje awalnya mengoordinasikan 52 perguruan tinggi.
Namun, setelah adanya kebijakan pemerintah terkait penyatuan perguruan tinggi swasta melalui Akselerasi Program Penggabungan dan Penyatuan Perguruan Tinggi Swasta (APPP-PTS), jumlahnya kini tinggal 46 PTS. Melalui program ini, pemerintah memberikan insentif kepada yayasan yang menyatukan semua perguruan tinggi dalam satu institusi.
“Kalau dibandingkan dengan Makassar, mungkin hanya satu atau dua kabupaten. Di tempat saya, ada dua provinsi. Di Maluku terdapat 26 perguruan tinggi, sedangkan di Maluku Utara ada 20 perguruan tinggi.
Saat ini sedang dalam proses penggabungan lagi, sehingga kemungkinan jumlahnya akan berkurang menjadi 44 perguruan tinggi,” ujarnya.
Proses Penggabungan
Beberapa institusi yang sedang dalam proses penggabungan di antaranya Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIEM) Rutu Nusa Ambon yang akan bergabung dengan Akademi Kebidanan Cahwala Ternate menjadi Universitas Cahwala di Maluku Utara dengan kantor pusat di Ternate.
Selain itu, Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Ilmu Politik (STISIP) Kebangsaan Masohi akan bergabung dengan Akademi Kebidanan Nusantara Jaya Halmahera Selatan.
Penggabungan perguruan tinggi ini, menurutnya, juga didorong oleh kebijakan pemerintah, khususnya Kemendikbud Ristek saat itu, yang bertujuan mengurangi jumlah perguruan tinggi. Kebijakan ini berdampak signifikan dengan berkurangnya jumlah PTS, yang kini tersisa sekitar 2.000-an PTS.
ditambah yang berada di bawah kementerian agama, menjadi 4.000-an
Ia menjelaskan bahwa perguruan tinggi di wilayahnya relatif kecil, sehingga diberikan kesempatan untuk berubah melalui penyatuan. Contohnya, Universitas Lelemuku Saumlaki (Unlesa) merupakan gabungan dari empat sekolah tinggi di Tanimbar,
yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE), Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP), Sekolah Tinggi Hukum (STH), dan Sekolah Tinggi Perikanan (STP).
“Karena menjadi universitas, ada tambahan program studi,” ujarnya. Jantje juga mengungkapkan bahwa penggabungan tersebut membuat perguruan tinggi menjadi lebih besar dan berkualitas, sehingga meningkatkan minat masyarakat.
Tantangan Alam
Namun, ia mengakui adanya tantangan, terutama terkait kondisi alam. Hal ini disebabkan faktor geografis, dengan wilayah kerja yang luas dari ujung utara Pulau Morotai hingga tenggara yang berbatasan dengan Australia atau Timor Leste.
Meskipun jumlah perguruan tinggi sedikit, jangkauan LLDikti XII sangat jauh dan terdiri dari kepulauan. Tantangan lain adalah komitmen pimpinan perguruan tinggi untuk berubah.
Ia menyadari bahwa persoalan komitmen menjadi kendala besar hingga kini, namun sebagai koordinator, ia menyelesaikannya satu per satu.
Ia menekankan pentingnya akreditasi perguruan tinggi di wilayah kerjanya. Semua institusi harus terakreditasi, karena jika tidak, akan melanggar peraturan. “Pada tahun 2024, semua PTS di LLDikti XII harus memiliki akreditasi institusi (APT) dan program studi (APS),” tegasnya.
Meski begitu, masih ada kendala – kendala kecil, seperti PTS yang belum memenuhi sertifikasi dosen (serdos). Hal itu terjadi karena jabatan fungsionalnya masih belum banyak, padahal untuk dapat serdos seorang dosen minimal harus 2 tahun memegang jabatan fungsional atau minimal asisten ahli.
Jika mereka sudah memiliki jabatan fungsional, maka mereka bisa masuk dalam daftar eligible atau memenuhi syarat untuk mendapatkan sertifikasi dosen yang dilakukan oleh kementerian.
Tantangan ini, menurut Jantje, sangat berat. Terlebih dengan kondisi alam yang luar biasa, membutuhkan usaha yang sangat keras. Contohnya, perjalanan dari Morotai ke Ambon memerlukan pergantian moda transportasi, mulai dari darat, laut, hingga udara, sehingga biayanya pun mahal.
Oleh karena itu, ia mengandalkan sistem untuk keperluan surat-menyurat dan membangun aplikasi untuk pengajuan jabatan fungsional demi mempermudah birokrasi.
Belum Unggul
Namun demikian, Jantje menyebutkan bahwa belum ada satu lembaga PTS di wilayah LLDikti XII yang berstatus unggul. Hal ini disebabkan oleh syarat yang harus dipenuhi untuk mencapai status tersebut sangat berat.
Salah satunya adalah dosen yang harus konsisten melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan mempublikasikan karya ilmiah. Kendala ini menjadi tantangan besar bagi PTS di wilayah Maluku dan Maluku Utara untuk menjadi kampus atau program studi unggul.
“Itu sangat sulit, tetapi kami terus melakukan berbagai kegiatan untuk mencapai hal tersebut. Misalnya, pendampingan untuk membantu kampus-kampus menjadi unggul atau mendukung program studi agar mencapai status unggul,” ujarnya.
Di sisi lain, ia juga menyebutkan kendala pada Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). Oleh sebab itu, LLDikti XII terus mendorong PTS untuk memperbaiki Sistem Penjaminan Mutu (SPM), karena jika SPM baik, otomatis SPMI juga akan baik. Meskipun belum ada yang berstatus unggul, Jantje mengungkapkan bahwa ada PTS yang sebenarnya berkualitas.
Oleh sebab itu, ia menyarankan kepada kampus-kampus di wilayahnya untuk tidak malu bekerja sama dengan perguruan tinggi yang sudah tergolong baik.
Mengutip istilah menteri pendidikan tinggi, harus ada mentorship, yaitu hubungan pembimbingan antara mentor (yang lebih berpengalaman) dan mentee (yang dibimbing) untuk mendukung perkembangannya. Sebab untuk memajukan kampus tidak bisa bekerja sendiri. Yayasan tidak boleh menutup diri.
“Kalau yayasan tertutup berat. Saya bilang ke mereka, jangan malu untuk minta mentorship. Perguruan tinggi yang kuat membina perguruan tinggi yang
lemah. Itu kan juga bagus untuk kita berkolaborasi. Jadi kita harus terbuka menerima perubahan,” katanya.
Pengaruh PTN-BH
Selain itu, ia juga menyebutkan bahwa ada faktor eksternal yang memengaruhi perkembangan PTS di Maluku Utara. Salah satunya adalah ekspansi perguruan tinggi negeri (PTN) yang berstatus Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH).
Dengan status tersebut, PTN membuka pendaftaran hingga empat gelombang, yang secara otomatis memengaruhi penerimaan mahasiswa baru PTS.
Namun, Jantje tetap optimis bahwa selama PTN atau prodinya belum berakreditasi unggul, atau jika akreditasi PTS dan PTN masih setara, calon mahasiswa akan tetap memilih PTS yang lebih dekat. Transportasi dari Maluku Utara, seperti Halmahera Utara ke Ambon, cukup jauh dan otomatis berbiaya tinggi.
Jadi, jika status akreditasinya sama, lebih baik masuk PTS lokal saja. Oleh karena itu, ia menyarankan perguruan tinggi dengan akreditasi baik sekali atau B untuk membuka program magister demi menarik minat masyarakat.
Jantje juga mengakui bahwa hingga saat ini sebagian besar PTS di Maluku dan Maluku Utara masih mengandalkan 70-100 persen pembiayaan dari SPP mahasiswa. Namun, beberapa PTS dengan yayasan yang kuat sudah mulai mencari sumber pendanaan lain.
“Itu menjadi tantangan terbesar kami. Kami selalu mengatakan agar jangan terlalu bergantung pada mahasiswa, terutama jika mereka membayar dengan mencicil. Kampus harus tetap hidup dan operasional berjalan,” ujarnya.
Karakteristik mahasiswa di Maluku dan Maluku Utara pun berbeda. Ia menjelaskan bahwa pendapatan asli daerah Maluku Utara bergantung pada tambang nikel,
sehingga orientasi pekerjaan mereka lebih condong menjadi pekerja tambang. Akibatnya, jurusan yang paling diminati adalah Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM).
Di Maluku, jurusan sosial lebih diminati, sehingga PTS dengan program STEM tidak banyak tersedia. Dari segi jumlah perguruan tinggi, kondisinya seimbang: ada tujuh universitas di Maluku Utara dan tujuh di Maluku, serta dua institut di Maluku Utara dan satu di Maluku.
Saat ini, tren yang sedang populer menurut Jantje adalah sekolah tinggi kesehatan, karena peminatnya sangat banyak. Sebagai contoh, ada perguruan tinggi kesehatan dengan jumlah mahasiswa mencapai 1.000-an orang dalam satu angkatan.
Selain kesehatan, program studi lain yang masih menarik adalah hukum, akuntansi, dan manajemen.
“Peminatnya tinggi di Maluku, sehingga peminat STEM tidak terlalu banyak, apalagi program STEM juga mahal,” ungkapnya.
Jantje juga mendorong implementasi Kampus Berdampak yang digaungkan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Ia selalu meminta PTS untuk mengikuti tren kementerian dan menyampaikan setiap informasi dari kementerian kepada PTS. Ia mengimbau PTS untuk tidak menutup diri dari kebijakan kementerian.
Menurut Jantje, informasi dari kementerian harus diperhatikan dan dilaksanakan. Kampus perlu berkolaborasi dengan institusi lain seperti pemerintah atau swasta, termasuk dengan mengundang pakar ke kampus. Hal ini penting untuk akreditasi dan peningkatan mutu akademik.
“Jika itu dapat meningkatkan mutu akademik dan tata kelola PTS sehingga kampus menjadi unggul, maka harus dipertahankan. Program studi harus unggul terlebih dahulu agar kampusnya menjadi unggul, meskipun itu tantangan besar,” tegasnya.
Target Penting
LLDikti XII, menurut Jantje, berkomitmen mendukung PTS-PTS untuk berkembang. Mereka siap berkolaborasi, seperti membantu menyediakan data tenaga ahli untuk penguatan SPMI.
Jantje juga terus mendorong PTS-PTS yang mayoritas berakreditasi C atau B untuk memperkuat SPMI agar akreditasi mereka meningkat. Oleh karena itu, kampus-kampus di Maluku dan Maluku Utara diharapkan terbuka untuk hal ini.
Sebagai kepala LLDikti XII, Jantje memiliki target utama yaitu meningkatkan akreditasi kampus-kampus di Maluku dan Maluku Utara. Kampus yang terakreditasi baik perlu meningkat menjadi baik sekali, sementara yang sudah baik sekali diharapkan bisa menjadi unggul.
Namun, ini membutuhkan kerja keras. Untuk menjadi perguruan tinggi unggul, harus ada program studi yang berakreditasi unggul, dengan target minimal 35%. Jika hanya memiliki dua program studi, setidaknya satu harus berstatus unggul sehingga mencapai target 50%.
Target lainnya adalah mendorong dosen-dosen PTS untuk mengikuti program beasiswa pradoktoral dari Direktorat Sumber Daya Kemendiktiristek agar dapat melanjutkan ke program doktoral, mengatasi kekurangan jumlah doktor di PTS-PTS. “Itu harapan besar kami,” katanya.
Mengenai jabatan fungsional, sebelum tahun 2020 ketika masih menjadi LLDikti, hanya ada satu profesor. Kini sudah ada beberapa, meskipun jumlahnya masih kurang.
LLDikti juga memberikan pendampingan kepada dosen yang berada pada posisi lektor kepala untuk meningkatkan jabatan fungsional mereka. Target lainnya adalah meningkatkan publikasi ilmiah, dengan harapan mencapai tingkat internasional atau setidaknya nasional di Sinta 1 atau Sinta 2.
“Kondisi alam memang berat, tapi itu bukan hambatan besar,” tambahnya.














