Dr. Ir. I Gusti Lanang Bagus Eratodi, ST, MT, IPU, ASEAN Eng., APEC.Eng. - Kepala LLDIKTI Wilayah VIII Bali dan NTB

Kepala LLDIKTI Wilayah VIII Bali dan NTB – Disiapkan di Nusat Tenggara Barat Perguruan Tinggi Akreditasi Unggul

Share

Meski dorongan orang tuanya kuat untuk mengarahkan kuliah Universitas Udayana, ia memilih jalan mandiri Universitas Brawijaya sebagai pilihan tempat kuliah dengan harapan mendapatkan wawasan dan lingkungan yang lebih luas walau ayahnya dosen Teknik Arsitektur Universitas Udayana.

Prinsip hidupnya adalah tidak ingin bergantung pada orang tua untuk meraih kesuksesan. Pada tahun 2001, ia kembali ke Bali dan menjadi dosen di Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar.

Kemudian, pada 2005, ia diterima sebagai dosen ASN. Karier akademiknya terus berkembang. Pada 2006, ia melanjutkan studi S2 Teknik Sipil di UGM dan menyelesaikannya dalam waktu 1 tahun 7 hari melalui program fast-track. S

Setelah kembali, ia aktif menulis proposal riset dan menjadi Ketua Pusat Penelitian dan Kajian di Undiknas. Pada 2009, ia kembali ke UGM untuk meraih gelar doktor.

Setelah menyelesaikan S3, ia diangkat menjadi Dekan Fakultas Teknik dan Informatika Undiknas hingga 2018. Dengan keahliannya yang langka di bidang Teknik Sipil, ia juga berperan sebagai tim teknis PBG (dulu IMB) di tiga kabupaten/kota di Bali serta menjadi asesor Tri Hita Karana.

Sejak 2016, ia aktif sebagai fasilitator nasional Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) dan pembukaan kampus baru. Pada 2020, ketika Kopertis berubah menjadi LLDIKTI dan cakupannya dipersempit hanya untuk Bali dan NTB, ia menunda pengajuan Guru Besar karena belum memenuhi masa kerja 20 tahun.

Namun, portofolio dedikasinya yang panjang berhasil membawanya terpilih sebagai Kepala LLDIKTI Wilayah VIII melalui proses open bidding pada 2022.

Sejahterakan Dosen
Salah satu langkah strategis awal yang dilakukan setelah menjadi Kepala LLDIKTI adalah meningkatkan kesejahteraan dosen sebagai fondasi utama mutu pendidikan tinggi.

Menurutnya, dosen yang sejahtera tidak hanya meningkatkan performa individu, tetapi juga menciptakan ekosistem kampus yang kondusif dan produktif. Kenaikan jumlah Lektor Kepala dan Guru Besar di PTS wilayah kerja menjadi prioritas utama dalam arah kebijakan LLDIKTI Wilayah VIII.

Pencapaian lima perguruan tinggi swasta dengan akreditasi unggul juga menjadi indikator kinerja yang diakui secara nasional melalui BAN-PT, menunjukkan peningkatan kualitas tidak berhenti pada individu dosen, tapi ditransformasikan menjadi kualitas institusi.

Meski dirinya sendiri saat itu belum menjadi guru besar tetapi mendorong yang lain untuk segera mencapainya mencerminkan kepemimpinan yang rendah hati
namun berdampak. Ia mengusung konsep “karier dosen setinggi-tingginya”.

Hasilnya jumlah dosen bersertifikasi meningkat dari 3.100 menjadi 3.900 lebih, dan guru besar bertambah dari 28 menjadi 95 orang.

Lima perguruan tinggi swasta berhasil meraih akreditasi unggul, yaitu Universitas Mahasaraswati, Universitas Warmadewa, Undiknas, IPB Internasional, dan Institut Teknologi Kesehatan (ITEKES) Bali.

Bagus menyoroti pentingnya kemandirian finansial PTS melalui unit bisnis berbasis keahlian dosen serta penguatan jaringan alumni. Ia juga mengusulkan kolaborasi bermakna antara perguruan tinggi dan dunia usaha, bukan sekadar formalitas MoU.

Menurutnya, kekuatan mitra dan alumni menjadi kunci untuk membekali lulusan agar siap kerja atau berwirausaha. Pendekatan ini sejalan dengan semangat Kemdiktisaintek dalam menciptakan “Kampus Berdampak.”

Bagus percaya kolaborasi antara PTS kecil dan besar, dengan dukungan pemerintah dan industri, menjadi fondasi utama lahirnya sumber daya manusia unggul.

Kemandirian Finansial
Bagus mengarahkan agar tidak ada ketergantungan PTS terhadap sumber tunggal pembiayaan, yaitu dari mahasiswa. Ini menunjukkan kesadaran kritis terhadap kerentanan model keuangan pendidikan tinggi swasta di Indonesia

Konsep ini membutuhkan transformasi struktural yayasan untuk memberikan ruang kewirausahaan bagi dosen secara strategis. Dosen diharapkan tidak hanya mengajar,

tetapi juga mengembangkan unit konsultan, rumah sakit pendidikan, atau industri kreatif di kampus sebagai wujud konkret model entrepreneurial university sebagaimana yang dianjurkan dalam kebijakan “Diktisaintek Berdampak”

Bagus juga mengkritik praktik kerja sama kampus dan dunia usaha yang hanya sebatas formalitas tanpa realisasi nyata. Bagus mendorong kemitraan yang fungsional dan transformatif, seperti penyediaan tempat magang, transfer ilmu, dan upskilling sesuai kebutuhan pasar kerja yang aktual.

Ia mengajak agar agar mitra tidak hanya berperan sebagai penerima lulusan, melainkan juga co-creator dalam pengembangan kurikulum. Artinya, dunia usaha dan industri perlu dilibatkan dalam menentukan konten pembelajaran agar tidak terjadi dislokasi antara teori di kampus dan kebutuhan lapangan.

Hal ini sesuai dengan semangat Diktisaintek Berdampak: fleksibel, inklusif, adaptif, dan relevan. Alumni bukan hanya sebagai simbol identitas institusi, tetapi sebagai katalisator penguatan mitra. Alumni yang berhasil, dipercaya industri, dan memiliki pengaruh akan membuka pintu lebih luas bagi lulusan-lulusan berikutnya.

Pendekatan Kolaboratif
Bagus menyampaikan bahwa visi perguruan tinggi berdampak sangat progresif, dengan menghapus dikotomi antara PTS besar dan kecil, menggantikan kompetisi dengan kolaborasi, serta mengajak PTN/PTNBH untuk membina, bukan mendominasi.

Bagus menyadari banyak PTS tidak memiliki sumber daya memadai untuk riset atau pengabdian secara mandiri, sehingga solusinya adalah memperkuat jejaring antarperguruan tinggi yang difasilitasi pemerintah.

Pendekatan ini sejalan dengan tren global pendidikan tinggi yang menekankan sinergi antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat sipil sebagai satu sistem inovasi.

Di NTB, belum ada perguruan tinggi yang meraih akreditasi “Unggul”. LLDIKTI Wilayah VIII saat ini sedang mendampingi tiga perguruan tinggi di NTB agar dapat mencapai target tersebut dan mengikuti jejak perguruan tinggi swasta unggul di Bali.

Kampus Berdampak
Bagus menegaskan bahwa langkah-langkah ini sesuai kebijakan Kemendikbudristek dalam mendorong “Perguruan Tinggi Berdampak”, di mana civitas akademika berfokus pada hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat.

Prinsip “Diktisaintek Berdampak” memberi mahasiswa kesempatan memahami dunia luar, lalu kembali ke kampus dengan wawasan dan pengalaman relevan melalui kolaborasi riset, inovasi dosen, mahasiswa, dan DUDI. Hal ini menjadi dasar evaluasi agar kurikulum kampus menyesuaikan kebutuhan nyata.

Kolaborasi lintas kampus, terutama bagi PTS kecil, menjadi kunci. Dengan jejaring bersama kampus besar yang sudah mapan, riset dan pengabdian tidak perlu dimulai dari nol.

Bagus menggambarkan skema kolaborasi ini sebagai segitiga harmonis antara pemerintah sebagai fasilitator, PTN besar sebagai pembina, dan pusat keunggulan. PTS sebagai pelaksana yang bersinergi dan dunia usaha dan industri sebagai pengguna langsung lulusan dan sumber umpan balik.

“Kata industri itu bukan hanya BUMN, tapi juga pemerintah daerah, swasta, bahkan usaha kecil yang siap menerima dampak dan memberikan manfaat ke masyarakat, “ katanya.

Tonton Video Selengkapnya

Artikel Terkait