Setiap posisi memberikan perspektif baru tentang tata kelola perguruan tinggi, mulai dari aspek legalitas, kelembagaan, hingga pelayanan langsung kepada mahasiswa. Pengalaman tersebut memperkuat kapasitas dalam merancang kebijakan yang strategis dan berkelanjutan.
Saat menjabat sebagai Sekretaris, ia melakukan koordinasi lintas sektor, yang membutuhkan kemampuan manajerial serta respons cepat terhadap tantangan di lapangan. Reputasinya sebagai birokrat yang tegas namun komunikatif semakin diakui oleh para pengelola kampus.
Pada tahun 2022, Andi Lukman menjabat sebagai Kepala LLDikti IX, mengawasi perguruan tinggi di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat.
Baginya, jabatan ini bukan sekadar simbol puncak karier, melainkan amanah besar untuk memastikan ratusan PTS tetap sehat, berkualitas, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Kita harus turun, melihat, dan mendengar langsung agar kebijakan yang dibuat benar-benar menjawab kebutuhan,” ujarnya.
Di bawah koordinasi LLDikti IX, terdapat 224 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dengan keragaman ukuran dan kapasitas. Mulai dari kampus besar dengan ribuan mahasiswa hingga perguruan tinggi kecil yang fokus pada pengembangan komunitas lokal.
Sebanyak 9–10 persen dari total tersebut tergolong PTS besar dengan jumlah mahasiswa di atas 5.000 orang. Mayoritas PTS berada dalam kategori menengah dan kecil,
sering menghadapi tantangan seperti mempertahankan jumlah mahasiswa, meningkatkan kualitas tenaga pengajar, dan menyediakan fasilitas pembelajaran yang memadai. Kondisi ini membuat pembinaan dan pendampingan menjadi sangat penting.
“Saya menyadari bahwa kesenjangan antara kampus besar dan kecil dapat menghambat pemerataan mutu pendidikan tinggi,” kata Andi Lukman.
PTS besar biasanya lebih siap untuk mengembangkan program internasional atau penelitian berskala besar, sementara PTS kecil memerlukan dukungan dalam
Membangun kapasitas dasar seperti akreditasi, manajemen keuangan, dan pemasaran program studi sangat penting.
Sinergi antar-PTS juga perlu didorong untuk saling melengkapi, seperti berbagi tenaga pengajar atau fasilitas laboratorium. Andi Lukman menekankan pentingnya memanfaatkan potensi lokal di setiap daerah. P
TS di kawasan pesisir bisa fokus pada ilmu kelautan atau perikanan, sementara kampus di daerah pegunungan dapat mengembangkan agrikultur dan konservasi lingkungan.
Pendekatan berbasis keunggulan lokal ini dipercaya mampu menarik mahasiswa baru sekaligus memperkuat kontribusi kampus terhadap pembangunan daerah
. “Suatu wilayah akan maju jika perguruan tingginya mampu memaksimalkan potensi lokal sekaligus membangun jejaring global,” katanya.
Tantangan kelembagaan
Tantangan utama yang dihadapi LLDikti IX adalah ketimpangan kualitas antara perguruan tinggi besar dan kecil. Perguruan tinggi besar biasanya memiliki sumber daya dosen, fasilitas, dan jaringan kerja sama yang luas, sementara perguruan tinggi kecil sering kali masih berjuang untuk memenuhi standar minimal akreditasi dan mutu layanan akademik.
Selain itu, faktor demografis menjadi tantangan tersendiri. Di beberapa daerah, jumlah lulusan SMA dan SMK menurun, yang langsung berdampak pada penurunan jumlah mahasiswa baru. Kondisi ini memaksa PTS untuk lebih kreatif menarik minat calon mahasiswa.
Transformasi digital juga menjadi isu penting. Banyak perguruan tinggi di wilayah terpencil belum mampu memanfaatkan teknologi pembelajaran secara maksimal.
Hambatan seperti infrastruktur internet yang terbatas dan rendahnya keterampilan digital dosen maupun tenaga kependidikan menjadi penghalang dalam adaptasi teknologi.
Daya saing global lulusan PTS di wilayah ini juga perlu ditingkatkan. Minimnya keterlibatan industri dalam proses pendidikan membuat lulusan kurang memiliki keterampilan praktis yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja internasional.
Hal ini mendorong untuk terus membangun kolaborasi dengan dunia usaha dan industri. “Kita harus berani mengakui kelemahan, karena hanya dengan itu kita bisa menyusun langkah perbaikan yang tepat,” tegasnya.
Strategi Pembinaan
Untuk menghadapi tantangan yang dihadapi PTS di wilayahnya, salah satu pendekatan yang dilakukan adalah memberikan pendampingan intensif melalui program klinik mutu dan manajemen.
Program ini dirancang untuk memberikan solusi praktis terhadap masalah spesifik yang dihadapi PTS, mulai dari pengelolaan akademik, administrasi, hingga tata kelola keuangan.
Kolaborasi antar-PTS juga didorong dengan berbagi sumber daya seperti dosen, laboratorium, dan fasilitas pembelajaran. PTS yang lebih kecil dapat memanfaatkan keunggulan PTS yang lebih besar,
sehingga sinergi ini diharapkan mampu mempercepat peningkatan mutu tanpa harus menunggu pembangunan fasilitas yang membutuhkan waktu dan biaya besar.
Diversifikasi sumber pendapatan menjadi fokus pembinaan lainnya, mendorong PTS untuk tidak sepenuhnya bergantung pada SPP mahasiswa.
Contohnya dengan mengembangkan unit bisnis, program pelatihan sertifikasi, kerja sama riset dengan industri, hingga membentuk dana abadi. Digitalisasi juga memungkinkan perguruan tinggi menjangkau pasar mahasiswa yang lebih luas, termasuk pembelajar jarak jauh.
Mutu Akreditasi
Peningkatan mutu perguruan tinggi menjadi agenda utama LLDIKTI Wilayah IX. Dari 224 PTS yang dibina, baru dua institusi yang meraih akreditasi institusi Unggul, sementara 39 lainnya mencapai akreditasi Baik Sekali.
Meski ada kemajuan, hal ini menunjukkan masih panjangnya perjalanan untuk mewujudkan standar mutu yang merata di seluruh wilayah. Salah satu tantangan besar adalah keterbatasan jumlah dosen bergelar doktor dan jabatan fungsional tinggi seperti Lektor Kepala dan Guru Besar.
Keterbatasan ini secara langsung memengaruhi kapasitas penelitian, publikasi, dan pengembangan program studi unggulan. Selain itu, dokumentasi kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang belum optimal menjadi kendala dalam proses akreditasi.
Saat ini, setiap PTS didorong untuk membentuk tim percepatan akreditasi yang bertugas memantau indikator kinerja utama, memastikan dokumen pendukung tersusun rapi, dan mengintegrasikan sistem penjaminan mutu internal dalam kegiatan sehari-hari kampus.
Pendekatan ini bertujuan agar peningkatan mutu bersifat berkelanjutan, bukan musiman. Kerja sama dengan industri dan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran juga menjadi faktor penting.
Keterlibatan sektor industri dapat memperkaya kurikulum dan menyediakan peluang kerja bagi lulusan, sementara teknologi membantu memperluas jangkauan pembelajaran serta meningkatkan interaktivitas.
“Kami terus mendorong PTS untuk tidak hanya fokus pada pencapaian akreditasi, tetapi juga membangun budaya mutu,” ujarnya.
Arah Internasional
LLDikti IX, menurut Andi Lukman, menempatkan internasionalisasi pendidikan tinggi sebagai prioritas strategis. Upaya ini bertujuan meningkatkan reputasi perguruan tinggi secara global sekaligus memperkaya pengalaman akademik mahasiswa dan dosen.
Langkah konkret meliputi pembentukan program joint degree dan double degree dengan universitas luar negeri, memungkinkan mahasiswa mendapatkan dua gelar sekaligus, sehingga daya saing lulusan meningkat signifikan.
Program pertukaran dosen dan mahasiswa juga terus digalakkan untuk membuka wawasan lintas budaya dan memperkuat jejaring akademik. Visiting professor dari berbagai negara diundang untuk memberikan kuliah umum dan membimbing penelitian bersama.
Kehadiran akademisi internasional ini diharapkan mampu menginspirasi dan meningkatkan kualitas riset di PTS wilayah binaan. Juga mendorong publikasi ilmiah di jurnal bereputasi internasional sebagai salah satu tolok ukur keberhasilan program internasionalisasi.
“Program studi berbahasa Inggris menjadi agenda penting untuk menarik mahasiswa asing. Beberapa PTS telah mulai menawarkan kurikulum internasional,” katanya
Konsep Kampus Berdampak Diterjemahkan Dalam 3 Pilar
Konsep “Kampus Berdampak” yang digagas Kemendiktisaintek merupakan wujud komitmen agar keberadaan perguruan tinggi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan daerah.
Program ini dirancang berdasarkan tiga pilar utama: relevansi, kualitas, dan kontribusi. Ketiga pilar ini saling berkaitan dan menjadi pedoman pembinaan seluruh PTS di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat.
Pilar relevansi menekankan pentingnya keselarasan kurikulum dengan kebutuhan pasar kerja dan pembangunan daerah, sehingga lulusan PTS tidak hanya memiliki kemampuan akademik tetapi juga keterampilan praktis sesuai perkembangan industri.
LLDIKTI IX memfasilitasi dialog antara kampus, dunia usaha, dan pemerintah daerah untuk merancang program studi yang adaptif terhadap perubahan. Pilar kualitas berfokus pada peningkatan mutu pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Andi Lukman menyoroti pentingnya pengembangan kapasitas dosen, penelitian kolaboratif, serta penguatan jaringan publikasi. Proses pembelajaran juga diarahkan agar lebih interaktif dan adaptif dengan dukungan teknologi.
Pilar kontribusi memastikan perguruan tinggi menjadi agen solusi di masyarakat melalui program pengabdian, kolaborasi dengan komunitas lokal, dan pemanfaatan hasil riset untuk menyelesaikan masalah riil.
PTS didorong menjadi pusat inovasi yang memberikan dampak langsung bagi lingkungan sekitar. “Kampus yang berdampak adalah kampus yang kehadirannya dirasakan oleh masyarakat, bukan hanya civitas akademika,” ujarnya.
Jejak Prestasi
Andi Lukman mencatat sejumlah pencapaian yang memperkuat kualitas pendidikan tinggi di wilayahnya. Salah satu prestasi utamanya adalah meningkatkan jumlah perguruan tinggi dengan akreditasi institusi “Baik Sekali” dan mendorong dua PTS meraih predikat “Unggul”.
Ini membuktikan keberhasilan strategi pembinaan mutu yang terstruktur dan konsisten. Di bidang inovasi, ia memprakarsai penguatan sistem penjaminan mutu internal di PTS melalui pembentukan tim percepatan akreditasi.
Program ini membantu perguruan tinggi melakukan evaluasi mandiri, mengidentifikasi kelemahan, dan menyusun langkah perbaikan secara sistematis, sehingga mempercepat peningkatan mutu sekaligus memperkuat budaya akademik yang berorientasi pada kualitas.
Dalam hal internasionalisasi, Andi berhasil mendorong kolaborasi antara PTS dan universitas luar negeri, menghasilkan program joint degree serta pertukaran dosen dan mahasiswa. Kerja sama ini membuka peluang baru bagi mahasiswa dan memperkaya perspektif akademik di kampus.
Tak hanya fokus pada prestasi akademik, ia juga memastikan kontribusi perguruan tinggi pada masyarakat tetap berjalan. Program pengabdian berbasis riset yang dilakukan di berbagai daerah memberikan solusi praktis,
mulai dari pemberdayaan ekonomi lokal hingga penerapan teknologi tepat guna di sektor pertanian dan kelautan.
“Setiap keberhasilan perguruan tinggi adalah hasil kerja bersama seluruh pihak, mulai dari dosen, mahasiswa, hingga mitra eksternal,” tuturnya.














