Buku 69th - BS

“Angka 69 Simetris, Dibolak-balik Sama’’

Share

Judul : 69 Tahun Bambang Sadono, Saya Berkarya Karena Itu Saya Ada Penyunting : Bambang YR Sadono Penerbit : PT Citra Almamater Baru Tahun Terbit : 2026 Tebal : 448 halaman

Bagi BS, angka 69 adalah simbol keseimbangan sempurna karena bentuknya yang simetris. Di usianya yang hampir mencapai kepala tujuh, ia memandang hidup bukan lagi sebagai garis lurus menuju puncak, melainkan sebagai lingkaran yang bolak-balik tetap memberi makna yang sama.

Dalam pengantar bukunya, ia mengungkapkan alasan pribadi di balik pilihan angka tersebut. “Saya suka angka 69, simetris, dibolak-balik tetap sama. Begitulah hidup, senang-susah, sehat-sakit, tertawa-menangis, hakikatnya sama saja,” ujarnya.

Filosofi ini mencerminkan sikap nrimo sekaligus ketangguhan BS dalam menghadapi pasang surut kehidupan—baik saat berada di puncak karier politik maupun ketika melewati masa-masa sulit.

Buku ini menjadi penanda bahwa baginya, setiap fase kehidupan memiliki nilai setara selama seseorang terus berkarya.

Pekerja Keras
Karakter tangguh dan reflektif yang dimiliki BS tidak terbentuk secara instan, melainkan ditempa sejak masa kecilnya di Blora.

Tumbuh di lingkungan sederhana, Bambang kecil dikenal pendiam namun tajam dalam mengamati keadaan. Blora, dengan kekayaan budaya pewayangan dan sastra, menjadi rahim yang menumbuhkan imajinasi dan kecintaannya pada dunia tulis-menulis.

Sejak dini, ia menunjukkan bakat menonjol di sekolah, terutama dalam bidang bahasa. Setiono Santoso, teman SMP dan SMA-nya, mengenang bagaimana bakat terpendam BS mulai tercium oleh mata jeli seorang guru.

“BS anak pendiam. Guru Bahasa Indonesia diam-diam memperhatikan bakat terpendamnya dan sering meminjamkan buku-buku sastra,” tulis Setiono.

Kegemarannya membaca buku sastra pinjaman dan menonton wayang kulit hingga larut malam bukan sekadar hobi masa kecil, melainkan “investasi kultural” yang kelak membentuknya menjadi jurnalis piawai,

politisi yang memahami karakter masyarakat, dan budayawan yang gigih melestarikan tradisi. Akar kesederhanaan dari Blora inilah yang membuat BS tetap membumi meski kelak melanglang buana ke pusat kekuasaan di Jakarta.

Dunia Jurnalistik
Bagi Bambang Sadono, dunia jurnalistik bukan sekadar profesi mencari berita, melainkan sebuah “Kawah Candradimuka” yang membentuk karakter, jaringan, dan ketajaman kepemimpinannya.

Perjalanannya dimulai dengan kegigihan luar biasa, merangkak dari bawah sebagai penulis lepas yang harus berjuang agar karyanya layak muat, hingga akhirnya dipercaya menjadi Wakil Pemimpin Redaksi Suara Merdeka dan Pemimpin Redaksi Suara Karya.

BS dikenal bukan hanya piawai mengolah isu, tapi juga punya insting bisnis media yang tajam, paham bahwa keberlangsungan media bergantung pada sinergi antara idealisme redaksi dan kemandirian ekonomi, termasuk pengelolaan iklan dan sponsor.

Pengalaman memimpin organisasi profesi seperti Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) semakin menguatkan pengaruhnya di tingkat nasional.

Kemampuannya mengelola manusia dan organisasi diakui kolega seniornya, seperti yang disampaikan Hendro Basuki bahwa pondasi kepemimpinan BS di ruang redaksi menjadi modal utama saat terjun ke ranah lebih luas.

Jurnalisme membekalinya dengan literasi kuat, integritas, dan keberanian mengambil keputusan—tiga pilar yang membawanya mantap menuju panggung politik legislatif.

Di tengah kesibukannya sebagai praktisi pers dan politisi, BS tetap aktif di dunia akademik. Gelar Doktor Hukum yang diraihnya menjadi landasan aktivitasnya sebagai dosen, karena ia percaya praktisi yang baik harus memiliki teori yang kuat, dan teori yang baik harus bisa diimplementasikan dalam kebijakan publik.

Politik dan Pengabdian
Transisi Bambang Sadono dari dunia jurnalistik ke kursi parlemen bukanlah pelarian karier, melainkan perluasan medan pengabdian. Di kancah politik, mulai dari DPRD Jawa Tengah, DPR RI, hingga DPD RI, ia tidak sekadar hadir sebagai pelengkap, tetapi menjadi “ujung tombak” yang produktif melahirkan regulasi.

Latar belakang jurnalistik dan pemahaman hukumnya yang mendalam menjadikannya sosok penting dalam penyusunan berbagai undang-undang pilar demokrasi Indonesia, termasuk UU Pers dan UU Penyiaran yang menjaga kebebasan berpendapat tetap berada di jalur profesionalisme.

Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang, Prof. Masrukhi, bahkan mengakui kontribusinya yang besar. Bagi BS, ujian sejati politisi bukan hanya saat menang, tetapi juga saat kalah.

Hal ini terlihat saat ia maju di Pilgub Jawa Tengah—meski kalah, sikap ksatria dan kedewasaan politiknya menuai hormat, bahkan dari lawan politik. Baginya, jabatan adalah sarana bekerja.

Kekalahan tidak menghentikannya untuk terus memperjuangkan kepentingan daerah lewat DPD RI, membuktikan bahwa pengabdian tak ditentukan oleh tinggi rendahnya jabatan, melainkan oleh manfaat yang dirasakan masyarakat luas.

Sisi Humanis
Di balik setelan jas parlemen dan ketegasan seorang jurnalis, BS adalah pecinta budaya yang tetap membumi. Buku ini menggambarkan dengan apik bahwa identitasnya tak lepas dari dunia pewayangan.

Kecintaannya pada wayang kulit tak perlu diragukan, bahkan ia pernah meraih Rekor MURI setelah menonton pertunjukan wayang kulit selama 35 hari nonstop — bukti dedikasi yang jarang dimiliki pejabat publik. Sisi humanis BS terlihat dari selera dan gaya hidupnya yang jauh dari kesan mewah.

Ia setia menikmati “nasi kucing” di angkringan, tempat di mana batas sosial melebur dalam obrolan santai. Kesederhanaan ini bukan pencitraan, melainkan karakter asli yang dibawanya dari Blora.

Ia selalu terbuka untuk teman lama dan kader tingkat bawah tanpa memandang jabatan mereka. Hari Bustaman, dalam salah satu fragmen tulisan di buku ini, menggambarkan betapa BS menjaga relasi kemanusiaannya:

“Lelaki asal Blora penggemar wayang sejak kecil ini tetap berpenampilan sederhana. Masih mau bertemu teman lama meski kondisi sudah berbeda, makan bersama di tempat sederhana,” katanya.

Karakter nguwongke wong (memanusiakan manusia) inilah yang membuatnya bukan hanya disegani sebagai tokoh nasional, tapi juga dicintai sebagai sahabat dan orang tua bagi banyak kalangan.

Eksistensi Karya
Buku “69 Tahun Bambang Sadono” bukan biografi konvensional dengan satu narasi dari sudut pandang tokoh utamanya. Keunikannya ada pada format mozaik raksasa yang dirangkai dari kesaksian berbagai lapisan masyarakat, menciptakan potret multidimensi.

Kita tak hanya membaca testimoni mantan menteri, rektor, atau kolega politisi di Jakarta, tapi juga suara jujur dari orang-orang terdekat dalam keseharian, seperti sopir pribadi dan staf rumah tangga.

Keragaman narasumber ini menunjukkan BS sebagai sosok inklusif yang meninggalkan jejak kebaikan sama dalamnya, baik di karpet merah kekuasaan maupun lantai semen rumah rakyat.

Disusun berdasarkan episode waktu—dari masa kecil di Blora, era jurnalisme, hingga kiprah di legislatif—alur transformasi hidupnya mudah diikuti. Foto-foto dokumentasi yang disertakan memperkuat cerita, membuatnya kaya secara visual sekaligus informatif.

Buku ini bukan sekadar penanda usia, tapi pernyataan tentang arti eksistensi: bagi BS, hidup adalah terus menyalakan api kreativitas, bukan tentang menunggu waktu redup di usia senja.],

melainkan tentang bagimana terus menyalakan api kreativitas.Lewat buku ini, pembaca diajak merenungi filosofi kuat bahwa berhenti berkarya berarti berhenti ada.

Meski telah melewati berbagai fase penting dalam sejarah pers dan politik Indonesia, BS membuktikan bahwa produktivitas tak mengenal batas pensiun. Di usia 69 tahun, ia tetap relevan dengan merambah dunia digital lewat podcast, mengelola majalah, dan terus melahirkan tulisan-tulisan tajam.

Baginya, setiap gagasan yang hadir harus diwujudkan menjadi sesuatu yang nyata dan bermanfaat bagi orang lain. Prinsip kerja kerasnya terangkum indah dalam kalimat yang menjadi ruh perjalanannya:

“Berpikir barulah awal, bekerja adalah proses pelaksanaan pemikiran, hasilnya sebuah karya yang akan menjadi kenangan,” ujarnya.

Sosok Bambang Sadono adalah teladan konsistensi. Buku ini pantas dibaca, bukan hanya oleh kolega atau mereka yang mengenalnya, tapi juga oleh generasi muda yang ingin belajar menjaga integritas dan etos kerja lintas zaman.

Melalui rangkaian tulisan di buku ini, kita diingatkan bahwa warisan terbaik seseorang bukanlah jabatan yang pernah dipegang, melainkan seberapa banyak karya yang ditinggalkan sebagai kenangan dan inspirasi bagi masa depan.

***

Artikel Terkait