Ketika berada di Jakarta, 19, 29, dan 21 Januari 2026, didampingi kameramen Ardhian Mahardika, mewawancarai tujuh tokoh sebagai narasumber.
Masing-masing tiga pimpinan teras BUMN, dan empat mantan Menteri. Keliling Jakarta dari ujung ke ujung, sejak pagi sampai sore, akhirnya lunas juga tugas jurnalistik tersebut.
Pertama ketemu dengan Plt Direktur Utama PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Faruq Hidayat, yang berkantor di wilayah Cakung, Jakarta Timur.
Niat awal wawancara untuk menyiapkan buku “100 Alumni ITS Kebanggaan Almamater” yang akan diterbitkan majalah Kampus Indonesia Bersama Penerbit Citra Almamater, yang sebelumnya sudahmenerbitkan buku alumni untuk UGM, UI, ITB, IPB, dan Undip.
Perbincangan melebar, dari pengalaman kuliah mulai dari program Diploma, S1, sampai S2, semua di Institut Sepuluh Nopember (ITS) sampai pengalaman memimpin di lingkungan Pelindo, dan akhirnya mengurus KBN.
Kegigihan untuk terus belajar, kesetiaan untuk menekuni bidang Teknik, kemudian manajerial, sampai semangat pengabdian, yang dilakukan sepenuh hati.
“Itulah karakter khas kami alumni ITS” kata Faruq.
Sayang berbagai pengalaman inspiratif tersebut kalau hanya muncul di buku tentang Alumni ITS. Maka pembaca majalah Ekonomi Indonesia, juga bisa ikut menikmati perjalanan Panjang seorang professional, yang merangkak dari bawah dengan modal Pendidikan D3, akhirnya sampai ke pimpinan puncak BUMN.
***
Tokoh kedua alumni ITS juga, Direktur Usaha Angkutan Barang dan Tol Laut PT PELNI, Kokok Susanto. Rute perjalanannya hampir sama dengan Faruq Hidayat walaupun berangkat dari awal yang berbeda. Kokok alumni Teknik Arsitektur ITS yang kemudian lama menekuni karier di PT Pelindo.
Setelah malang melintang menjadi direktur, bahkan direktur utama di berbagai grup Pelindo, akhirnya berlabuh di PT PELNI.
Misinya menjaga kelancaran arus barang, baik yang diangkut melalui peti kemas maupun curah, ke seluruh pelosok Indonesia, termasuk di Kawasan terpencil dan terluar.
Kalau PT PELNI melayani sekitar 40 persen angkutan peti kemas tol laut, bisa dibayangkan strategisnya misi Kokok untuk daerah 3TP.
Memang tidak seluruh rute menjanjikan keuntungan untuk PT PELNI. Tetapi karena barang yang diangkut tersebut berkait dengan hajat hidup orang banyak, maka mendapat subsidi pemerintah melalui Kementerian Perhubungan.
“Kami punya kapal khusus ternak, yang melayani NTT-Surabaya-Jakarta. Tetapi kembalinya ke NTT harus kosong, karena dilarang memuat selain ternak,” katanya.
Berbagai perjalanan karier dan perjuangan pengabdian Kokok ini juga kami tampilkan di edisi ini.
***
BS juga mewawancarai tokoh muda yang menjadi sebagai Direktur Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, Benny Siga Butar Butar.
Di Tengah krisis peran media, terutama media cetak dan penyiaran, ia bertekad membangunkan raksasa tidur.
Kantor berita yang lahir sebelum Indonesia Merdeka ini, diyakini masih bisa berbuat banyak. Tidak sekadar eksis menantang zaman, tetapi juga akan mengukir sejarah keberhasilan ke depan.
Konsep mikronya menggerakkan BUMN media ini untuk memperbarui visi dan cara kerjanya. Tidak hanya untuk menjadi corong negara secara nasional, tetapi juga untuk melakukan komunikasi dengan warga dunia.
Karena itu ia bertekad membangun kembali kantor-kantor di negara-negara yang strategis. Media tidak hanya sarana komunikasi sosial, bagi Benny bisa menjadi modal komunikasi bisnis.
Jargonnya, berita yang dihasilkan selain layak siar harus layak jual. Konsep makronya, ke depan pers Indonesia harus bersama-sama dengan pemerintah atau negara, dan dengan Masyarakat untuk menyongsong masa depan yang penuh tantangan.
Semangat Benny ini juga bisa dibaca di terbitan ini. Empat wawancara lain, dengan Prof. Haryono Suyono, Prof. Dr. Emil Salim, Prof Fadel Muhammad, dan Fuad Bawazier, dipersiapkan untuk buku “Soeharto Pahlawan Nasional” yang akan diterbitkan majalah Politik Indonesia dan Penerbita Citra Almamater juga.










