Dr. Ir. Djoko Siswanto, M.B.A - Kepala SKK Migas

Dr. Ir. Djoko Siswanto, M.B.A – Kawal Hulu Migas Nasional Tegas Kurangi Impor Energi

Share

Perjalanan profesional Dr. Ir. Djoko Siswanto, MBA bermula di sektor swasta sebagai Petroleum Engineer di PT Sarana Putra Makmur. Pengalaman turun langsung ke lapangan memberinya pemahaman utuh tentang industri minyak dan gas bumi (migas), dari eksplorasi hingga produksi, sekaligus membentuk dasar teknis yang kuat.

Seiring waktu, muncul keinginan untuk berkontribusi lebih luas. Ia melihat jalur pemerintahan sebagai ruang untuk terlibat dalam pengambilan keputusan strategis yang berdampak besar bagi sektor energi dan kepentingan bangsa.

Pilihan beralih ke birokrasi pun menjadi titik balik penting dalam kariernya. Dari dunia swasta, ia masuk ke Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Di sinilah perjalanan panjangnya sebagai aparatur negara dimulai dan berkembang, dengan tantangan yang berbeda namun ruang pengabdian yang lebih luas.

Sebagai pegawai negeri, ia menyadari pentingnya terus meningkatkan kapasitas diri. Penguasaan bahasa Inggris menjadi perhatian serius karena membuka akses ke pendidikan dan pelatihan internasional.

Ia konsisten belajar, termasuk mempersiapkan TOEFL, bahkan ketika hal itu belum menjadi prioritas banyak rekan kerjanya.Usaha tersebut berbuah hasil. Ia kerap mendapat kesempatan mengikuti pelatihan di luar negeri.

“Nilai nilai inilah yang kemudian menjadi fondasi saya,” ujarnya.

Tangga Kepemimpinan
Karier Djoko Siswanto di sektor migas pemerintahan berkembang secara bertahap dan konsisten. Ia pernah mengemban sejumlah posisi strategis, antara lain Direktur BBM dan Direktur Gas Bumi pada Program Bimbingan Profesi Ahli Migas, Direktur Pembina Usaha Hulu Migas Kementerian ESDM, serta Deputi Pengendalian Pengadaan di Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

Selanjutnya, ia dipercaya menjabat Sekretaris Badan Pengatur Hilir Migas (BPH Migas), Direktur Teknik dan Lingkungan Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM, serta Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN).

Beragam penugasan tersebut membentuk pemahaman yang komprehensif mengenai tata kelola migas nasional, dari hulu hingga hilir,mencakup aspek teknis, regulasi, serta dinamika antara pemerintah dan pelaku usaha.

Sejak November 2024, Djoko Siswanto menjabat sebagai Kepala SKK Migas. Pada posisi ini, ia memimpin lembaga yang berfokus pada sektor hulu migas, khususnya kegiatan eksplorasi dan produksi, dengan peran sebagai wakil negara dalam kontrak kerja sama bersamapara kontraktor migas.

Berbeda dengan BPH Migas yang mengatur sektor hilir, atau Ditjen Migas yang berperan sebagai regulator, di sisi lain Pertamina bertindak sebagai badan usaha yang menjalankan kegiatan operasional di sektor hulu dan hilir, sejajar dengan kontraktor lainnya.

“Pembagian peran ini merupakan hasil reformasi Undang-Undang Migas untuk menghindari konflik kepentingan dan memastikan tata kelola yang lebih transparan,” jelasnya.

Diversifikasi Energi
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar Indonesia saat ini adalah kesenjangan antara kebutuhan dan produksi minyak nasional. Ia menjelaskan bahwa Indonesia pernah menjadi produsen minyak besar.

Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, produksi minyak mencapai 1,7 juta barel per hari, jauh melampaui kebutuhan BBM sekitar 600.000 barel.

Kelebihan produksi tersebutdiekspor, sehingga Indonesia menjadi anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC). Seiring waktu, cadangan minyak terus menipis sementara konsumsi meningkat tajam.

Pertumbuhan penduduk, aktivitas ekonomi, serta lonjakan jumlah kendaraan bermotor mendorong kebutuhan BBM semakin besar. Di sisi lain, minyak merupakan energi tak terbarukan.

Setelah diproduksi lebih dari satu abad, cadangan yang mudah diakses semakin berkurang, sementara temuan baru berada di wilayah yang lebih sulit dan berisiko tinggi.

“Sekarang kita menjadi net importir minyak. Kondisi ini berdampak besar pada neraca perdagangan dan ketahanan energi nasional,” katanya.

Ia berpandangan upaya mengurangi impor tidak bisa hanya mengandalkan peningkatan produksi minyak. Diperlukan pendekatan menyeluruh melalui diversifikasi energi, dengan mendorong pengembangan kendaraan listrik, bahan bakar nabati, gas, hingga hidrogen sebagai alternatif BBM fosil. Di sisi lain, pengembangan kendaraan listrik (Electric Vehicle/ EV) juga menunjukkan pertumbuhan yang pesat.

“Jadi kalau nanti Indonesia bisa beralih ke EV 100%, kita sudah tidak impor lagi,” jelasnya.

Tingkatkan Produksi Minyak
Meski transisi energi terus berjalan, Djoko Siswanto menegaskan tugas utama SKK Migas tetap menaikkan produksi minyak nasional. Dengan kapasitas kilang sekitar 1 juta barel per hari, produksi domestik yang masih di kisaran 600 ribu barel per hari perlu terus ditingkatkan.

Ia menargetkan tren produksi yang meningkat, dimulai dari target APBN 605 ribu barel per hari dan naik menjadi 610 ribu barel per hari pada tahun berikutnya.

Walau belum mendekati capaian masa lalu, tren kenaikan ini dinilai penting setelah bertahun-tahun produksi mengalami penurunan. Penetapan target yang menantang dianggap perlu untuk mendorong inovasi, karena pola kerja lama dinilai tidak lagi memadai menghadapi tantangan sektor migas.

Salah satu terobosan yang didorong adalah pengaktifan kembali sumur tua dan sumur idle. Tercatat sekitar 45 ribu sumur yang selama ini dikelola secara informal oleh masyarakat.

Tanpa kehadiran negara, praktik tersebut berisiko menimbulkan masalah keselamatan, pencemaran lingkungan, dan kebocoran penerimaan negara.

“Ini tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat keselamatan kerja, perlindungan lingkungan, dan memastikan minyak masuk ke sistem resmi negara,” tegasnya.

Peran Teknologi Menentukan Angkat Minyak dari Reservoir

Dalam dunia teknik perminyakan, terdapat tantangan klasik bahwa dari seluruh minyak yang ditemukan di dalam reservoir atau batuan bawah tanah tempat minyak dan gas tersimpan, rata-rata hanya sekitar 50 persen yang dapat diangkat ke permukaan dengan metode konvensional. Separuh sisanya masih tertinggal di pori batuan yang keras, bercampur pasir, dan melekat kuat di dalam reservoir.

Djoko Siswanto mengibaratkan kondisi ini seperti tangan yang terkena minyak goreng. Saat tangan dicelupkan lalu diangkat, minyak tidak langsung lepas seluruhnya karena masih ada lapisan yang menempel.

Untuk membersihkannya dibutuhkan air panas, sabun, atau perlakuan khusus. Prinsip yang sama berlaku dalam dunia migas. Ia menjelaskan, teknologi untuk mengangkat minyak yang masih tertinggal dikenal sebagai Enhanced Oil Recovery (EOR).

Sebelum EOR, terdapat tahapan secondary recovery sebagai bagian dari dasar teknik perminyakan, yakni mendorong minyak yang melekat di batuan menggunakan air, gas, atau karbon dioksida (CO₂) agar mengalir menuju sumur produksi.

Pada fase awal produksi, tekanan alami reservoir biasanya masih cukup kuat sehingga minyak dapat mengalir ke permukaan. Namun seiring waktu tekanan menurun dan minyak tidak lagi mengalir dengan sendirinya sehingga harus dibantu pompa.

“Masalahnya, dorongan air saja sering kali belum cukup. Seperti mencuci tangan dengan air dingin, minyak tetap membandel. Nah, di sinilah peran teknologi EOR,” jelasnya.

Metode Produksi
Salah satu teknologi EOR yang telah terbukti sukses adalah Steam Flooding atau injeksi uap panas, yang pertama kali diterapkan secarabesar di Lapangan Duri, Riau.

Uap panas dipilih karena ukurannya lebih kecil dibandingkan molekul air, sehingga mampu masuk lebih dalam ke pori batuan dan memanaskan minyak agar lebih cair serta mudah mengalir ke sumur produksi.

Selain uap, EOR juga dilakukan melalui injeksi gas, CO₂, serta metode kimia atau chemical EOR. Dalam metode ini, surfaktan dan polimer diinjeksikan ke reservoir.

Surfaktan bekerja seperti sabun untuk melepaskan minyak dari batuan, sedangkan polimer membantu mendorong minyak agar mengalir lebih efektif.

Indonesia kini mulai menggunakan surfaktan produksi dalam negeri, termasuk hasil pengembangan Institut Teknologi Bandung (ITB). Langkah ini dinilai strategis karena surfaktan impor berbiaya mahal, sementara produk lokal memungkinkan efisiensi biaya sekaligus pengembangan teknologi nasional, meski efektivitasnya masih terus ditingkatkan.

“Semua metode ini, mulai dari panas, kimia, mekanik, bakteri, hingga listrik, digunakan untuk memaksimalkan produksi dari cadangan yang sudah ditemukan,” katanya.

Cadangan Migas
Djoko Siswanto mengungkapkan, di luar cadangan yang sudah diketahui, Indonesia masih memiliki potensi besar yang belum tergarap. Dari sekitar 128 cekungan sedimen (basin) migas, baru sekitar separuh yang telah dieksplorasi, sehingga masih ada sekitar 65 basin yang belum disentuh secara serius.

Seiring kemajuan teknologi, peluang penemuan cadangan baru semakin besar. Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), pengolahan data seismik yang lebih canggih, serta integrasi teknologi lama dan baru meningkatkan tingkat keberhasilan eksplorasi, dari sebelumnya sekitar satu banding sepuluh menjadi tiga banding sepuluh atau sekitar 30 persen.

Untuk gas, tingkat keberhasilannya bahkan lebih tinggi. Di tengah dorongan global menuju transisi energi dan target nol emisi, Indonesia justru banyak menemukan cadangan gas.

Menurutnya, gas merupakan energi fosil paling bersih dan ideal sebagai jembatan menuju energi terbarukan. Dengan cadangan minyak sekitar 2 miliar barel, Indonesia secara teoritis masih aman sekitar 10 tahun ke depan tanpa penemuan baru, namun eksplorasi tetap harus berjalan karena ketahanan energi tidak boleh bergantung pada asumsi stagnan.

Ia menambahkan, sektor hulu migas membutuhkan pembiayaan besar dengan risiko eksplorasi tinggi, sementara perbankan nasional cenderung enggan membiayai kegiatan berisiko.

“Jika negara lain memberi 50 persen, kita harus berani memberi lebih. Sebab tanpa investasi, produksi akan terus menurun,” katanya.

Transisi Realistis
Pengembangan migas sebagai energi fosil terus berjalan, sementara energi baru dan terbarukan (EBT) juga didorong. Menurut Djoko Siswanto, titik temu keduanya berada pada strategi transisi yang realistis dan bertahap.

Saat menjabat di Dewan Energi Nasional (DEN), ia terlibat langsung dalam penyusunan Kebijakan Energi Nasional (KEN) dan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

Target EBT sebesar 23 persen pada 2025 telah ditetapkan, meski realisasinya terdampak pandemi COVID 19 dan kini masih berada di kisaran 17 persen.

Ia menilai kunci utama kemandirian dan kedaulatan energi adalah menekan impor. Selama impor masih tinggi, ketahanan energi akan rapuh. Karena itu, strategi yang ditempuh mencakup peningkatan produksi dalam negeri, pencarian substitusi, serta percepatan pengembangan EBT.

Program biodiesel seperti B30, B35, hingga B40 menjadi contoh nyata. Dengan memanfaatkan sawit domestik, Indonesia mampu menekan bahkan hampir meniadakan impor solar nonsubsidi.

“Indonesia kaya energi surya karena matahari bersinar sepanjang tahun, namun potensinya belum dimanfaatkan optimal di rumah, perkantoran, maupun area parkir. Padahal, investasi sektor ini dapat menjadi fondasi kuat menuju energi bersih,” ujarnya.

Keunggulan Teknik ITB Perlu Ditambah Soft Skill

Sebagai alumni ITB, Djoko Siswanto menilai kampusnya membekali mahasiswa dengan kemampuan problem solving yang kuat.

Sejak dini, mahasiswa dilatih untuk mandiri dan menyelesaikan persoalan, bukan sekadar menghafal teori. Itulah keunggulan ITB, sekaligus kekuatan individu lulusannya yang mampu beradaptasi dan bekerja di berbagai tempat.

Namun, ia juga mencatat kecenderungan individualisme dan perfeksionisme yang kerap membuat kerja tim kurang solid. Menurutnya, individu alumni ITB memang kuat, tetapi kekompakan sering menjadi tantangan.

Meski demikian, ia mengakui sebagian besar lulusannya tetap mampu menunjukkan kapasitas tinggi di mana pun berada. Ia juga menilai riset teknologi dalam negeri kerap kalah cepat dan kalah murah dibandingkan produk luar.

Karena itu, diperlukan sikap yang lebih pragmatis dengan mendorong teknologi yang aplikatif, terjangkau, dan cepat memberi hasil. Keberpihakan pada produk dalam negeri, seperti surfaktan lokal untuk EOR, dinilai penting agar industri nasional dapat tumbuh meski efektivitas awalnya belum setara produk impor.

Dalam pandangannya, mahasiswa teknik sering mengabaikan dua hal penting, yaitu soft skill dan penguatan nilai agama. Pencapaian hidup tidak hanya ditentukan oleh kemampuan intelektual, tetapi juga karakter dan keyakinan. Selain itu, penguasaan soft skill seperti membaca buku pengembangan diri, membangun kepercayaan diri, dan memperluas jejaring menjadi bekal penting yang tidak selalu diajarkan di bangku kuliah.

Ia mencontohkan buku ‘Berpikir dan Berjiwa Besar’ yang memberi dampak besar dalam hidupnya. Buku tersebut membantunya memahami cara bersikap, bertindak, dan mengambil keputusan dalam setiap langkah kehidupan.

“Mahasiswa teknik sudah dibekali pengetahuan yang kuat di kampus. Ilmu teknis dapat terus dipelajari, tetapi karakter, soft skill, dan nilai agama harus ditegakkan agar berjalan seimbang,” tutupnya.

Artikel Terkait

Scroll to Top