Perjalanan Anita dimulai dari bangku kuliah di Teknik Perkapalan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), tempat ia belajar teknik, logika, disiplin, dan keteguhan berpikir sebagai seorang insinyur.
Di sana, ia menemukan keyakinan bahwa teknologi dan kemauan keras dapat membawa perubahan. ITS menjadi landasan awal yang menanamkan semangat pantang menyerah dan integritas profesional.
Sebagai Ketua Umum Institusi Perkapalan dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (Iperindo), Anita memimpin lebih dari 260 perusahaan perkapalan dan lepas pantai di seluruh Indonesia.
Ia tidak hanya menjadi penggerak industri, tetapi juga jembatan kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, dan kampus. Iperindo tidak sekadar mengurusi bisnis,
tetapi juga membangun ekosistem industri maritim yang tangguh, dengan fokus pada penguatan SDM, standardisasi keselamatan, dan penguasaan teknologi.
“Selama air laut masih asin, industri galangan kapal akan selalu hidup,” ujarnya.
Anita adalah bukti nyata bahwa kepemimpinan tidak mengenal gender, melainkan bergantung pada komitmen dan visi. Ia membuktikan bahwa perempuan juga mampu menjadi nakhoda perubahan, bahkan di sektor yang selama ini didominasi kaum lelaki.
Ketegasannya berpadu dengan empati, membuat setiap langkahnya bukan hanya keputusan bisnis, tetapi juga keputusan kemanusiaan—menghidupkan pabrik, memberdayakan tenaga kerja lokal, dan menyalakan semangat generasi muda untuk mencintai laut dan industri bangsanya sendiri.
Karier Awal
Lahir di Surabaya, Anita Puji Utami tumbuh di lingkungan yang akrab dengan dunia teknik dan laut. Kota pelabuhan yang ramai dengan aktivitas niaga dan deru mesin kapal itu, tanpa disadari, membentuk arah hidupnya di masa depan.
“Saya besar di lingkungan yang rasanya selalu dekat dengan dunia teknik dan kapal,” ungkapnya. Pilihannya untuk berkuliah di Jurusan Teknik Perkapalan, Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), bukanlah kebetulan.
Menjadi mahasiswa ITS adalah caranya untuk menantang diri di bidang yang pada saat itu jarang digeluti perempuan. Di kelasnya, jumlah perempuan bisa dihitung dengan jari.
Setelah lulus, Anita memulai karier profesional di PT Dharma Lautan Utama (DLU), salah satu perusahaan pelayaran nasional terkemuka.
disana, ia mempelajari seluruh rantai kerja operasional perusahaan pelayaran dari bawah, mulai dari manajemen logistik, pengelolaan armada kapal, hingga bidang asuransi dan keselamatan pelayaran.
Salah satu pengalaman paling berharga di awal kariernya adalah keterlibatannya dalam implementasi International Safety Management (ISM) Code di perusahaan.
Standar ini mengharuskan perusahaan memiliki sistem manajemen keselamatan yang terukur dan terdokumentasi. Proses ini membentuk karakter profesionalnya.
Dari kapal ke kapal, dari pelabuhan ke pelabuhan, Anita belajar arti tanggung jawab, ketelitian, dan kepemimpinan. Pengalaman di PT DLU menjadi fondasi penting dalam perjalanan kariernya.
Bergabung di PT ASSI
Perjalanan karier Anita Puji Utami mencapai momentum besar ketika ia bergabung dengan PT Adiluhung Sarana Segara Indonesia (ASSI), sebuah galangan kapal di Bangkalan, Madura.
Pada tahun 2007, perusahaan induk tempatnya bekerja mengambil langkah berani dengan mengakuisisi galangan kapal yang hampir mati.
“Ketika pertama kali datang ke lokasi, saya melihat bagaimana aset besar bisa kehilangan nyawanya karena manajemen dan budaya kerja yang salah arah,” kenangnya.
Bersama tim kecil, Anita melakukan restrukturisasi total, baik dari sisi manajemen maupun budaya kerja. Langkah awalnya sederhana namun mendasar, yaitu mengubah pola pikir pekerja.
Ia percaya bahwa teknologi dan fasilitas tidak akan banyak berarti tanpa perubahan cara pandang terhadap profesionalisme dan keselamatan kerja. “Yang saya ubah pertama bukan mesin, tapi mindset,” ujarnya.
Perubahan ini mulai membuahkan hasil. Sistem dokumentasi dan audit diterapkan dengan disiplin, standar keselamatan diperketat, dan pelatihan SDM dijalankan secara berkesinambungan. Galangan yang dulunya hampir mati perlahan bangkit menjadi industri dengan standar keselamatan tinggi.
Keberhasilan tersebut membuat nama Anita semakin dikenal. Ia dihormati tidak hanya sebagai insinyur yang menguasai aspek teknis, tetapi juga sebagai manajer perubahan yang tangguh dan visioner.
Puncaknya terjadi pada tahun 2014, ketika ia resmi diangkat sebagai Direktur Utama PT Adiluhung Sarana Segara Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, ASSI berkembang menjadi salah satu galangan kapal nasional yang diakui atas profesionalisme, kepatuhan regulasi, dan inovasi dalam keselamatan kerja.
“Galangan ini adalah laboratorium hidup, tempat manusia, teknologi, dan nilai-nilai keselamatan disatukan menjadi kekuatan bangsa,” katanya.
Holding Besar
PT Adiluhung Sarana Segara Indonesia (ASSI) telah berkembang menjadi bagian penting dari ekosistem maritim nasional. Perusahaan ini merupakan salah satu unit strategis dalam holding besar yang juga mencakup bisnis pelayaran, perhotelan, properti, hingga pusat perbelanjaan.
“Kalau mau bicara Indonesia sebagai negara maritim, harus punya kemampuan membangun, memperbaiki, dan mengelola kapal itu sendiri,” ujarnya.
Saat ini, ASSI melayani berbagai jenis kapal, mulai dari milik pemerintah dan BUMN, hingga swasta dan industri pertambangan. Dari tugboat hingga kapal penumpang, dari kapal logistik hingga kapal patroli, setiap proyek menjadi ajang pembelajaran dan inovasi bagi timnya.
Anita selalu menekankan bahwa kapal yang lahir dari galangan Adiluhung harus mencerminkan tiga nilai utama: efisiensi, keselamatan, dan penguasaan teknologi.
“Kami ingin setiap kapal yang keluar dari sini membawa kebanggaan,” katanya. Kepemimpinannya ditandai dengan dorongan untuk kemandirian industri galangan kapal nasional.
Ia menolak pandangan bahwa galangan di Indonesia hanya bisa menjadi pelaksana atau perpanjangan tangan perusahaan asing. Menurutnya, industri ini harus berdiri di atas kaki sendiri dengan riset, inovasi, dan sumber daya manusia yang unggul.
“Ketergantungan pada luar negeri membuat kita lemah,” tuturnya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Anita aktif menjalin kolaborasi lintas sektor, menggandeng lembaga pendidikan, asosiasi industri, hingga kementerian terkait.
Di tangannya, ASSI tak hanya menjadi galangan berorientasi profit, tapi juga pusat pembelajaran dan pengembangan kompetensi SDM maritim. Galangan ini harus menjadi tempat tumbuhnya generasi insinyur baru.
Mereka harus belajar tidak hanya membangun kapal, tetapi juga mencintai laut dan memahami arti keselamatan manusia di dalamnya. Ketekunan dan visinya menjadikan ASSI lebih dari sekadar pemain di industri maritim saja, melainkan juga salah satu simbol kebbangkitan kemandirian industri galangan kapal nasional.
Berusaha Jadikan Iperindo Rumah Besar Perkapalan
Perjalanan kepemimpinan Anita Puji Utami di dunia asosiasi industri maritim dimulai dari bawah. Ia terlebih dahulu aktif di Iperindo wilayah Jawa Timur, organisasi yang menaungi para pelaku industri galangan kapal dan lepas pantai. Pada tahun 2022, ia dipercaya memimpin DPP sebagai Ketua Umum.
Iperindo adalah rumah besar bagi para pelaku perkapalan Indonesia untuk berbagi visi dan saling mendukung. Dalam dua tahun pertama masa jabatannya, jumlah perusahaan anggota meningkat sekitar 30 persen, mencapai sekitar 265 perusahaan.
Ini bukan hanya angka, tetapi bukti bahwa asosiasi ini semakin dipercaya sebagai mitra strategis pemerintah dan industri. Anita membawa semangat baru, sinergi, dan profesionalisme.
Ia menekankan bahwa asosiasi tidak boleh berhenti pada forum diskusi, tetapi harus menjadi penggerak nyata bagi pertumbuhan industri.
“Kita harus hadir di lapangan, bukan hanya di seminar,” katanya.
Fokus utamanya adalah tiga hal: pertumbuhan industri galangan kapal nasional, penguatan sumber daya manusia, dan pengembangan jejaring antarindustri. Ia mendorong kolaborasi lintas sektor antara industri perkapalan, energi, pertambangan, dan pendidikan tinggi.
Industri galangan akan kuat jika didukung oleh SDM unggul dan ekosistem maritim yang terintegrasi. Iperindo menjembatani dunia usaha dan pendidikan, agar lahir insinyur-insinyur muda yang siap bekerja di industri ini.
Iperindo juga memperjuangkan berbagai kebijakan strategis, termasuk kemandirian industri galangan kapal nasional dan peran perusahaan dalam pembangunan armada maritim pemerintah.
Ia percaya bahwa industri ini bukan sekadar sektor bisnis, tetapi bagian dari strategi ketahanan nasional. “Kalau kita ingin berdaulat di laut, maka kita harus berdaulat atas kapal kita sendiri,” katanya.
Industri Galangan Kapal
Bagi Anita Puji Utami, industri galangan kapal bukan sekadar sektor ekonomi, tetapi juga napas panjang peradaban maritim Indonesia. Ia melihat galangan sebagai simbol kemampuan bangsa untuk menguasai lautnya sendiri—bentuk nyata dari kedaulatan.
“Selama air laut masih asin, industri galangan kapal akan tetap hidup,” ucapnya.
Kalimat ini kini menjadi semacam mantra optimisme di kalangan pelaku industri maritim. Ucapan tersebut bukan hanya retorika, melainkan keyakinan mendalam dari seseorang yang telah puluhan tahun berkecimpung di dunia pelayaran dan galangan.
Menurutnya, Surabaya dan Jawa Timur adalah poros utama industri perkapalan nasional. Wilayah ini memiliki ekosistem maritim yang paling lengkap di Indonesia, mulai dari lembaga pendidikan, tenaga ahli, hingga infrastruktur pelabuhan yang mendukung.
Di kawasan ini terdapat berbagai perguruan tinggi dan politeknik unggulan, seperti ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember), Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS), serta laboratorium hidrodinamika nasional yang menjadi tempat pengujian desain dan performa kapal.
“Di Jawa Timur, kita punya semua unsur penting, SDM, riset, dan fasilitas. Tinggal bagaimana kita menyinergikan semuanya,” jelasnya.
Hubungan dengan ITS
Meski kini memimpin salah satu galangan kapal besar di Indonesia, Anita Puji Utami tidak pernah jauh dari akar yang membentuk diriny, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Ia menyebut kampusnya itu sebagai tempat menempa logika dan ketangguhan berpikir.
ITS memberikan saya dasar berpikir yang sangat kokoh,” katanya. Di ITS, ia belajar bahwa menjadi seorang insinyur bukan hanya tentang menghitung atau menggambar desain kapal, tetapi juga tentang disiplin berpikir, ketepatan dalam mengambil keputusan, dan tanggung jawab atas hasil pekerjaan.
ITS memiliki ciri khas dalam membentuk pola pikir mahasiswanya, yaitu logis, sistematis, dan terukur. Prinsip-prinsip ini terus terbawa hingga kini dalam gaya kepemimpinannya di industri maritim.
“Seorang insinyur sejati bukan hanya mampu merancang sistem, tetapi juga menjaga integritasnya,” ujarnya.
Sebagai alumni yang aktif, Anita mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri. Ia yakin bahwa inovasi tidak akan berkembang jika riset di kampus tidak terhubung dengan kebutuhan dunia nyata.
Oleh karena itu, ia terlibat dalam inisiatif Industry Advisory Board (IAB), wadah komunikasi antara pelaku industri dan kampus, agar kurikulum teknik tetap relevan dengan perkembangan di lapangan.
“Jika kurikulum hanya berhenti di ruang kuliah, mahasiswa akan terkejut saat memasuki dunia kerja,” katanya.
Anita juga menekankan pentingnya pembaruan kurikulum yang dinamis dan adaptif. Menurutnya, era digital dan otomatisasi menuntut insinyur masa depan untuk memiliki kemampuan lintas bidang—mulai dari analisis data hingga manajemen proyek.
“Insinyur modern harus memahami teknologi informasi, manajemen, dan komunikasi global, Kampus harus menyiapkan itu sejak dini.” Katanya
Jaringan Alumni
Menurut Anita, kepemimpinan bukan hanya soal jabatan, tetapi tanggung jawab moral dan sosial. Ia percaya bahwa pemimpin teknik harus memiliki logika yang jelas, keputusan yang tegas, dan empati terhadap orang yang dipimpinnya.
“Pemimpin yang baik bukan yang paling pintar, tapi yang bisa membuat orang lain tumbuh,” ungkapnya.
Sepanjang kariernya, Anita merasa sangat terbantu oleh jaringan alumni ITS yang tersebar di berbagai sektor industri dan pemerintahan. Baginya, jaringan ini bukan sekadar kebanggaan simbolik, melainkan modal sosial yang nyata untuk mempercepat penyelesaian masalah dan membuka peluang kolaborasi
. “Kadang satu proyek besar bisa selesai lebih cepat hanya karena kita punya komunikasi yang baik dengan sesama alumni,” katanya.
Anita menyebutkan tiga nilai utama untuk kerja tim dan jejaring alumni yang efektif: komunikasi, kolaborasi, dan integritas. Tanpa komunikasi, kerja akan terputus. Tanpa kolaborasi, inovasi tidak akan lahir. Dan tanpa integritas, semua pencapaian hanya menjadi angka tanpa makna.
Pesan Untuk Mahasiswa
Sebagai alumnus yang kini memimpin industri galangan kapal nasional, Anita tidak pernah melupakan akar tempat ia tumbuh. Ia sering hadir di berbagai forum untuk berbagi pengalaman dan memotivasi mahasiswa. Dengan nada tegas namun bersahabat, ia selalu mengingatkan,
“Tidak ada orang menganggur kalau punya kemauan.”
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan insinyur tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga soft skill dan kemampuan berkomunikasi. Dunia industri, menurut Anita, membutuhkan individu yang mampu bekerja dalam tim, berpikir kritis, dan cepat beradaptasi dengan tantangan baru.
“Orang yang bisa berkomunikasi dengan baik akan lebih mudah menyampaikan gagasan dan memimpin perubahan,” ujarnya.
Anita juga mengajak mahasiswa ITS untuk membuka mata terhadap luasnya peluang di sektor maritim. Industri maritim itu ekosistem besar. Butuh orangorang
dari berbagai bidang untuk membangun kemandirian bangsa di laut.











