Alasannya sederhana, saat itu ia berencana menikah, dan salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah memiliki pekerjaan di perusahaan besar.
“Padahal sejak kuliah saya sudah berwirausaha, mulai dari menyewakan komputer hingga mendirikan Lembaga Bimbingan Belajar untuk kalangan menengah ke atas,” kenangnya.
Cak Tibi mengaku sebenarnya tidak pernah menyiapkan diri untuk menjadi pekerja. Sejak kuliah, cita-citanya adalah menjadi entrepreneur, karena ia melihat slip gaji orang tuanya yang bekerja sebagai pegawai negeri dirasa kurang menjanjikan.
Ia pun memutuskan mencari pekerjaan dengan penghasilan lebih besar di luar Jawa. Karena ke luar negeri tidak memungkinkan, pilihannya jatuh ke Batam, satu-satunya kota yang relatif tidak terkena dampak krisis.
“Setiap ada lowongan di Batam, saya coba melamar dan ikut wawancara. Salah satunya dilakukan di sebuah hotel di Yogyakarta,” ujarnya.
Dari proses itu, ia diterima di perusahaan pertamanya, PT Teac Electronics Indonesia, sebuah perusahaan Jepang di bidang peralatan listrik dan elektronik.
Awalnya ia melamar posisi Production Planning and Inventory Control (PPIC). Namun, karena dalam curriculum vitae tertulis bahwa ia pernah aktif sebagai demonstran,
Human Resources Development (HRD) perusahaan justru menekankan agar selama bekerja tidak ada aktivitas terkait demonstrasi maupun serikat pekerja, mengingat isu tersebut sangat sensitif di perusahaan asing.
Akhirnya, ia ditempatkan di bagian Quality Assurance. Saat itu International Organization for Standardization (ISO) tengah booming, dan tugas utamanya adalah menangani pelanggan berskala global.
Ia berhubungan langsung dengan berbagai customer besar, menangani audit maupun komplain, hingga melakukan kunjungan ke beberapa negara atas permintaan klien seperti Dell, Compaq, dan HP. “Tiga tahun bekerja di sana, saya menangani ISO 9000, ISO 14000, hingga ISO 18000,” katanya.
Etos Kerja
Cak Tibi merasa sangat beruntung mendapatkan pengalaman bekerja di perusahaan Jepang, karena di sanalah ia benar-benar memahami arti etos kerja yang sesungguhnya. Menurutnya, budaya kerja keras ala Jepang membuktikan bahwa manusia, khususnya bangsa Asia, memiliki kapasitas kerja yang luar biasa.
“Rata-rata saya bekerja minimal dari pukul 8 pagi hingga 8 malam, bahkan sering sampai pukul 11 malam. Terus dipaksa bekerja dengan gaya ala Jepang,” ujarnya.
Pengalamannya di PT Teac Electronics Indonesia dirasa sudah cukup, terutama karena ia banyak mendapat pelajaran berharga dari para senior. Salah satunya adalah nasihat,
Too much love will kill you. Jika ingin berkarier cepat, jangan bertahan terlalu lama di satu tempat. Paling lama tiga tahun, kuasai pengetahuan, bangun jaringan, lalu pindah ke tempat baru. Dengan begitu, karier bisa berkembang lebih cepat.
Dalam mencari pekerjaan baru, Cak Tibi tidak menjadikan gaji sebagai tujuan utama. Baginya, posisi yang menantang jauh lebih penting. Ia kemudian bergabung dengan perusahaan di industri mainan yang memproduksi produk Lego.
Di sana ia banyak berinteraksi dengan rekan kerja dari Denmark dan Eropa. Perusahaan ini mengajarkannya cara memvisualisasikan pikiran sekaligus melatih pola berpikir.
Ia terlibat dalam desain mainan dan berperan sebagai manufacturing engineer. Saat itu, posisinya sudah manager Quality Assurance sekaligus engineering manager. Menurutnya, lulusan statistika yang mampu menguasai bidang tersebut adalah hal yang unik. Ia berkarier di sana selama tiga tahun.
“Saya dituntut mempelajari banyak hal, mulai dari pembuatan desain 3D, proses modeling, pembuatan mould, hingga penyusunan prosedur Quality Assurance dari hulu sampai hilir,” ujarnya.
Intrapreneur Paripurna
Perjalanan berikutnya, Cak Tibi pindah ke perusahaan ketiga. Semua berawal dari sebuah pertemuan di Singapura, saat ia nongkrong dan bertemu seorang investor asal Singapura yang kemudian menjadi mentornya.
Dari pertemuan itu, ia diminta membangun sebuah perusahaan manufaktur di Batam dengan segmen usaha lengkap, mulai injection molding, offset printing, pembuatan mould, hingga assembly line untuk pasar Jepang.
“Karena saya dulu pernah bekerja di perusahaan Jepang, jadi saya bisa punya pendekatan ke customer-customer Jepang waktu itu,” ujarnya.
Pelanggan utama perusahaan ini adalah Sanyo Energy, perusahaan manufaktur panel surya dan baterai asal Jepang. Saat itu, jumlah karyawan mencapai 800 hingga 2.000 orang. Cak Tibi menjabat sebagai General Manager sekaligus memiliki 5% saham yang diperoleh melalui skema profit sharing.
Di sini, ia bahkan merasakan bagaimana menghadapi demo karyawan yang menuntut kenaikan gaji. Dari pengalaman tersebut, ia belajar mengelola uang dalam skala besar.
Dengan investasi awal sebesar 5 juta dolar, ia berhasil memutarnya menjadi revenue sekitar 8 miliar rupiah per bulan atau setara 96–100 miliar rupiah per tahun.
Pada fase ini pula, jejaringnya dengan perbankan, supplier, dan berbagai mitra bisnis semakin kuat. Menjelang akhir perjalanannya di perusahaan tersebut, ia akhirnya memutuskan untuk mendirikan perusahaannya sendiri.
“Lengkap sudah perjalanan saya. Tiga tahun pertama belajar bekerja, di perusahaan kedua belajar memvisualisasikan pikiran menjadi produk atau layanan, dan tiga tahun berikutnya belajar mengelola uang,” katanya.
Mendirikan Usaha
Bermodalkan pengalaman dari tiga perusahaan sebelumnya, Cak Tibi akhirnya mendirikan usahanya sendiri di Batam. Awalnya, ia membangun tiga perusahaan. Pertama, EXZEL Industries Indonesia yang berfokus pada komponen mekanis berbahan plastik dan logam.
Kedua, Rextor Teknologi Indonesia, yang memproduksi Programmable dan Digital CDI motor dengan merek REXTOR, pionir CDI programmable pertama di Indonesia sekaligus pengembang Inertia Dynamometer untuk mengukur horse power.
Ketiga, PT Global Mukti Solusindo yang bergerak di bidang kemasan kardus.
Baginya, semua ini adalah bagian dari perjalanan panjang yang terus berkembang. Kini, portofolionya mencakup sekitar 20 bisnis, termasuk pabrik plastik, pabrik kertas, hingga peternakan.
Dari berbagai usaha tersebut, PT Supra Teknologi Plastik menjadi penyumbang pendapatan terbesar. Berlokasi di lahan 3.000 meter persegi, perusahaan ini memiliki 20 mesin injection molding dan 20 unit CNC machine.
Produk unggulannya adalah OCTG Pipe Protector, pelindung ulir dan pipa berkualitas tinggi untuk industri minyak dan gas, dengan ukuran 2 hingga 20 inci.
Selain itu, perusahaan ini juga memproduksi Econorap sebagai separator transportasi untuk mencegah benturan antar pipa, Endcap untuk melindungi lubang pipa dari kerusakan, serta Bumper Ring sebagai cincin pelindung pipa selama penanganan dan penyimpanan.
“Produk-produk ini terutama ditujukan untuk mendukung industri minyak dan gas,” jelasnya.
Celah Alumni
Cak Tibi mengungkapkan bahwa berbagai pencapaian yang diraihnya tidak terlepas dari peran mentor hebatnya, seorang investor asal Singapura.
Dari mentor tersebut, ia banyak belajar tentang merger dan akuisisi, termasuk cara mengakuisisi atau menggabungkan perusahaan maupun ide. Menurutnya, inti dari semua itu adalah kemampuan mengelola keuangan sebagai penghubung.
“Rata-rata alumni ITS hanya mampu menciptakan, tetapi bagaimana memvisualisasikan hasil karya engineering menjadi uang dan menyampaikannya ke pasar dengan narasi yang tepat masih menjadi celah bagi alumni kita,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kurikulum belum sepenuhnya mendukung ke arah itu. Contohnya, saat kuliah ada materi tentang nilai teknik (engineering value), tetapi hanya sebatas membahas nilai tambah.
Padahal, kemampuan memvisualisasikan nilai tambah tersebut ke pasar adalah keterampilan yang masih jarang dimiliki. Karena itu, menurutnya, ideal bagi alumni fresh graduate,
terutama dari ITS yang sebagian besar berasal dari keluarga pekerja, untuk memulai perjalanan sebagai intrapreneur terlebih dahulu, bukan langsung menjadi entrepreneur.
Dunia bisnis penuh risiko dan tantangan yang berbeda dari dunia kerja, sehingga diperlukan tahapan sebelum benar-benar memulai usaha sendiri.
Dari pengalamannya, sekitar 80% ilmu statistik yang dipelajarinya masih digunakan, sementara 20% sisanya adalah general engineering. Pengetahuan ini mencakup prinsip dasar oil and gas, elektronika, hingga peternakan, yang digunakannya secara umum untuk mendukung bisnis.
Sebagai contoh, ia memiliki perusahaan di bidang riset pemasaran. Perusahaan ini berfungsi melakukan analisis sebelum mengakuisisi sebuah perusahaan, mulai dari mengetahui kompetitor, kondisi pasar, hingga strategi go-to-market agar lebih cepat.
“Ilmu statistik justru terpakai hingga 80%, sedangkan 20% lainnya dilengkapi dengan pengetahuan engineering yang relevan,” tegasnya.
Industri Batam Terus Tumbuh Diuntungkan Kebijakan Pajak
Baginya, Batam adalah kota dengan privilege yang tidak dimiliki kota lain, yakni keleluasaan fiskal melalui status kawasan Free Trade Zone (FTZ).
Investor dan pengusaha di Batam mendapatkan berbagai fasilitas seperti pembebasan bea ekspor dan impor, pembebasan PPN, serta Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).
Dibandingkan dengan Jakarta, bisnis di Batam dapat meningkatkan cash flow hingga 11% lebih tinggi karena tidak dikenakan PPN masukan. Keuntungan fiskal ini sangat signifikan, mengingat dalam bidang engineering, mencari margin 11% bukanlah hal yang mudah.
Secara modal, pengusaha di Batam sudah 11% lebih efisien dibandingkan di Jawa. Keunggulan lain Batam adalah rantai pasoknya yang unggul.
Lokasinya dekat Singapura, salah satu global hub paling efisien di dunia, memungkinkan proses bongkar muat hanya memakan waktu beberapa hari, sementara di dalam negeri sering sulit diprediksi.
Teknologi di Batam juga adaptif, dengan surplus energi yang memastikan pasokan tetap stabil. Sumber daya manusianya fleksibel dan mudah bermigrasi, ditambah tingkat gaji yang relatif lebih tinggi dibanding kota lain.
Sejak era Trump, banyak perusahaan memilih ekspansi ke Batam karena terkena tarif jika tetap beroperasi di negara asalnya. Dengan produksi di Batam, barang dari Cina atau negara lain dapat diberi label “Made in Indonesia” dan diekspor ke Amerika dengan tarif lebih rendah.
Kini, semakin banyak perusahaan Cina yang datang ke Batam. Namun, tantangan tetap ada, termasuk birokrasi.
Tantangan Birokrasi
Sebagai Wakil Ketua Himpunan Pengusaha Alumni (HIPA) ITS, Cak Tibi telah mengumpulkan database lebih dari 2.000 alumni pengusaha, dari skala mikro hingga besar.
Sayangnya, hanya sedikit yang bergerak di bidang manufaktur, sekitar 80% lebih banyak berfokus pada sektor jasa, terutama jasa engineering dan layanan lainnya. Peluang kerja sama dengan pemerintah tetap terbuka pada sektor perangkat lunak.
Tata kelola software di Indonesia masih belum efisien, di mana satu lembaga bisa memiliki banyak aplikasi yang berjalan sendiri-sendiri tanpa integrasi.
Kondisi ini membuka peluang bagi alumni ITS yang bergerak di bidang software house untuk mengembangkan aplikasi bagi kementerian maupun pemerintah daerah.
Cak Tibi mulai menjajaki sektor wisata alam dengan merencanakan pengelolaan destinasi wisata di Lumajang, Jawa Timur, kampung halamannya, atas permintaan Bupati.
Saat ini, prosesnya masih dalam tahap lelang, dengan tantangan utama berupa birokrasi yang panjang.
“Untuk alokasi dana Rp500 juta hingga Rp1 miliar saja, prosesnya bisa memakan waktu berbulan-bulan karena harus melewati berbagai prosedur administratif,” jelasnya.
Pengelolaan proyek pemerintah sering dianggap kurang efisien. Sebagai contoh, proyek senilai Rp200 juta dapat membutuhkan biaya tender hingga Rp50 juta, sementara proyek Rp2 miliar bisa menghabiskan biaya panitia lelang Rp50–100 juta, yang menurut sudut pandang swasta terasa tidak masuk akal.
“Sejak awal riset pada H+2 setelah Bupati dilantik hingga kini, prosesnya masih berada di tahap penyusunan appraisal nilai. Itulah tantangannya,” tambahnya.
Enterpreneur University
Cak Tibi juga berpendapat bahwa proses belajar mengajar di ITS sudah cukup baik dalam mendorong inovasi mahasiswa, terutama melalui kurikulum yang dihadirkan.
Dukungan dosen dan ruang ekosistem sudah memadai, meskipun tingkat kreativitas mahasiswa tidak semuanya sama.
Kurikulum yang ada sudah mampu membawa mahasiswa ke tahap inovasi, baik saat bekerja maupun memulai usaha. Namun, jika ITS ingin benar-benar berkembang menjadi Entrepreneur University, dibutuhkan perubahan besar.
Perubahan ini tidak bisa hanya mengandalkan dosen saat ini, karena DNA dosen lebih berfokus pada pengetahuan. Ilmu entrepreneurship membutuhkan pendekatan yang berbeda.
Jika ITS ingin membentuk kelas entrepreneur, mahasiswa yang berminat sebaiknya dikumpulkan dalam satu kelas yang diajar oleh praktisi berpengalaman.
Tujuannya adalah agar meskipun hanya sekitar 2 persen dari lulusan, mereka memiliki dasar entrepreneurship yang kuat, mulai dari membangun jaringan, mengelola modal, hingga berhubungan dengan perbankan.
Untuk bermetamorfosis menjadi Entrepreneur University, bukan sekadar Innovation University, ITS perlu menambah dosen yang kompeten di bidang entrepreneurship.
Kompetensi ini mencakup kemampuan berbisnis dan mengajar. Alumni yang dihadirkan juga harus mampu menyampaikan materi dengan jelas, tidak hanya berbagi cerita sukses, tetapi juga menjadi mentor, konsultan, dan coach bagi mahasiswa yang diarahkan untuk menjadi entrepreneur.
“Kalau dosen saat ini sudah hebat di bidang inovasi, buktinya mereka bisa menghasilkan alumni seperti saya,” ujarnya.
Dana Abadi
Cak Tibi adalah salah satu penggagas awal Endowment Fund atau dana abadi ITS. Ia menyusun proposal standar untuk mewujudkannya dan mengajak alumni lain untuk berpartisipasi. Keberhasilan dana abadi sangat bergantung pada kontribusi alumni, baik secara aktif maupun pasif.
Menurutnya, sistem komunikasi sebelumnya terlalu berorientasi pada meminta, yang lama-kelamaan bisa menimbulkan kejenuhan, seperti meminta sumbangan pribadi atau per angkatan, yang tentu ada batasnya.
“Jika ITS ingin dana abadinya tumbuh, dasarnya harus memberi. Memberi berarti menyediakan solusi. Banyak alumni yang bisa diajak berkontribusi,” ujarnya.
Proposalnya menitikberatkan pada pemilihan alumni yang benar-benar dapat berkontribusi, baik internal maupun eksternal. Untuk alumni eksternal, ia menyarankan pendekatan dengan menjangkau 480 kabupaten di Indonesia,
bertemu sekda setempat, dan melibatkan mereka sebagai bagian dari alumni ITS. Dengan demikian, ITS akan memiliki alumni di setiap kabupaten yang mampu memberikan dampak nyata di daerah masing-masing.
Tim dana abadi tidak bisa hanya dijalankan oleh dosen yang memiliki tanggung jawab utama mengajar. Tim ini harus profesional, membangun narasi yang tidak lagi berfokus pada meminta, tetapi memanfaatkan seluruh sumber daya ITS sebagai penggerak dana abadi.
Contohnya, penelitian yang dilakukan ITS dapat disesuaikan dengan kebutuhan kota atau kabupaten di Indonesia, dengan menyiapkan tim yang siap berkeliling menawarkan solusi dari ITS.
“Kalau itu tidak dilakukan, lupakan saja. Sampai kapan pun 1 triliun itu hanya mimpi utopia. Saran ini sudah saya sampaikan dari rektor ke rektor,” tegasnya.











